Sabtu, 4 Juli 2020

Pengguna Sebut Toyota Corona Senyaman Camry, Tapi Harganya Murah

Reporter:

Pribadi Wicaksono (Kontributor)

Editor:

Eko Ari Wibowo

Rabu, 1 Juli 2020 07:24 WIB

Toyota Corona lansiran 1990. Tempo/Pribadi Wicaksono

TEMPO.CO, Yogyakarta - Toyota telah menghentikan produksi seri Corona-nya sejak krisis moneter menghantam Indonesia tahun 1998 silam. Sebagai gantinya, Toyota saat itu mulai berfokus jualan Toyota Camry sebagai pilihan sedan papan atas.

Meski tak diproduksi lagi, ternyata pecinta dan pemburu Toyota Corona masih cukup besar. Pecinta Corona asal Yogya, Dhimas Anggi, menuturkan memiliki dua unit Corona seri 9 atau seri terakhir di rumahnya. Yakni Toyota Corona Absolut lansiran tahun 1997 dan 1998.

“Orang berburu Corona itu karena harganya relatif murah, karena dulunya itu mobil kelas menengah atas,” ujar Dhimas kepada Tempo Rabu 24 Juni 2020.

Advertising
Advertising

Harga jual Toyota Corona khususnya wilayah DI Yogyakarta, sebagain besar masih di bawah Rp 50-70 juta. Selain itu, Corona diburu karena terkenal handal dan kaya fitur, yang bahkan tidak dimiliki mobil-mobil lansiran terbaru saat ini.

Dhimas yang sudah 10 tahun lebih mengendarai Corona itu menuturkan, jika sama sama kondisinya sehat, suspensi milik Corona bisa senyaman Camry. Sistem suspensi Corona sudah menerapkan lengan ayun independen untuk produksi tahun 1987-1998.

“Jadi saat mobil harus melewati jalan bebatuan, yang jatuh hanya ban-nya, mobilnya diam, yang gerak hanya bannya, kenyamanan suspensinya sekelaslah kalau dibandingin Camry,” ujar Dhimas.

Fitur Corona bisa dibilang tak ketinggalan jaman. Fitur fitur yang ada pada mobil saat ini sudah tertanam di seri-seri lama Corona.

Sebut saja salah satunya defogger, yang berfungsi untuk mengurangi dan menghilangkan embun di kaca belakang mobil. Corona sudah memilikinya sejak di rilisan tahun 1987. Padahal di Toyota Innova saja yang memiliki fitur defogger ini hanya type V atau type tertinggi.

Selanjutnya: Fitur-fitur keren lainnya di Toyota Corona...


Tak hanya itu, Corona seri lawasan tahun 1980 an pun sudah memiliki fitur climate control yang berfungsi mengatur suhu AC mobil agar lebih presisi sesuai kebutuhan. Fitur ini, ujar Dhimas, bahkan tak dimiliki Toyota Avanza yang hanya menyediakan dua pilihan saja untuk pengaturan AC nya.

“Corona tipe ST 151 keluaran tahun 1986-1987 bahkan sudah memiliki kulkas di bawah bagian tape-nya. Jadi saat dulu touring dengan Corona itu sudah bisa menyimpan soft drink,” ujarnya.

Corona ST151 sendiri terbilang bukan seri langka dan pasarannya hanya sekitar Rp 15 juta. Hanya saja seringkali fitur kulkas di mobil ini sudah tak terawat lagi.

Sebagai mobil kelas menengah di masa lalu, Corona kini harga jualnya memang sudah menurun drastis dan bisa dimiliki berbagai kalangan.

Dhimas mencontohkan, salah satunya Corona Premio atau seri AT 201 yang pernah dipilih sebagai kendaraan dinas perwira TNI Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Di masa lalu, masyarakat umum tak bisa memilikinya karena hanya dikhususnya untuk militer. Namun kini sudah bisa menemui tipe 201 ini banyak dimiliki perorangan. Biasanya didatangkan dari Batam.

Dhimas menuturan sekitar lima tahun lalu seri 201 itu diketahuinya pernah terjual di Yogya dengan harga Rp 60 jutaan. Dengan pelat nomornya sudah diubah hitam atau dimiliki perorangan.

Sedangkan untuk seri seri di bawahnya seperti Toyota Corona Absolute St 191 lansiran 1997, Dhimas menuturkan harganya di pasaran Yogya tak sampai Rp 50 juta.

Yogyakarta sendiri memiliki komunitas khusus pecinta Corona sejak 2007 silam dan merupakan komunitas pertama Corona di Indonesia, yang bernama Jogja Corona Club atau JCC. Anggota komunitas ini, ujar Dhimas lebih dari 100 an orang.

PRIBADI WICAKSONO