Mahesa Nusantara Dijual Murah, Berapa Lama Sukiyat Balik Modal?

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mobil Pedesaan Mahesa Nusantara tipe pick up di bengkel Kiat Motor miliknya di Jalan Solo - Jogja, Ngaran-Mlese, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, pada Jumat, 29 September 2017. TEMPO/Dinda Leo Listy

    Mobil Pedesaan Mahesa Nusantara tipe pick up di bengkel Kiat Motor miliknya di Jalan Solo - Jogja, Ngaran-Mlese, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, pada Jumat, 29 September 2017. TEMPO/Dinda Leo Listy

    TEMPO.CO, Klaten - Pemilik Kiat Motor, Sukiyat, mengaku Mahesa Nusantara ditargetkan baru balik modal setelah lima tahun masa produksi awal. "Dijual murah biar para petani bisa jalan dulu usahanya. Kalau belum apa-apa sudah kejar laba, petani mangap-mangap (sengsara) karena buat proyekan terus," kata Sukiyat saat ditemui Tempo di bengkel Kiat Motor miliknya di Jalan Solo - Jogja, Desa Mlese, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, pada akhir pekan lalu.

    Ia mengatakan tidak mengambil banyak laba dari hasil penjualan Mahesa jika sudah diproduksi secara massal pada 2018.

    "Harga Rp 50 juta - Rp 70 juta itu sudah dapat untung sekitar delapan persen. Mahesa memang dijual murah karena saya tahu kondisi petani. Ayah saya dulu juga petani," kata Sukiyat.

    Baca: Mahesa Nusantara Double Kabin Diubah Jadi Pick Up Butuh 5 Menit

    Sukiyat mengatakan, ada dua faktor penunjang murahnya harga jual Mahesa Nusantara. Pertama, karena mayoritas komponennya produk lokal. Digagas sejak 3,5 tahun lalu, purwarupa tiga tipe Mahesa yang diluncurkan pada tahun ini komponennya 90 persen dari industri kecil menengah (IKM) di Indonesia.

    Adapun sisanya menggunakan komponen impor, di antaranya blok presneling dan sistem digital pada spidometer. "Untuk purwarupa memang masih menggunakan sebagian kecil komponen dari vendor kita di luar negeri. Tapi kalau sudah diproduksi massal, 100 persen komponennya asli buatan anak bangsa," kata Sukiyat.

    Disinggung ihwal mesin Mahesa, Sukiyat berujar bahwa para ahli di Indonesia saat ini sudah bisa membuat sendiri. "Mesin yang buat dari Quick (CV. Karya Hidup Sentosa Yogyakarta, produsen traktor Quick). Alat mereka lengkap. Jangan lupa, ada 165 pemikir di Mahesa Nusantara," kata Sukiyat.

    Selain dapat menekan harga jual Mahesa, Sukiyat berujar, pemanfaatan komponen produk lokal juga dapat menjaga kelangsungan hidup para IKM. Disamping memproduksi komponen untuk produksi massal Mahesa, IKM di sejumlah daerah di Jawa Tengah juga dapat membuat suku cadangnya.

    Baca: Interior Mahesa Nusantara Serasa Naik Suzuki Carry Tahun 90an

    "Mahesa untung sedikit nggak apa-apa. Kalau omzetnya besar, dampak ke masyarakat juga sebanding. Ribuan penganggur bisa terserap di Mahesa dan IKM," ujar Sukiyat.

    Faktor kedua yang menunjang murahnya harga jual Mahesa adalah komitmen bersama para perintisnya bahwa Mahesa Nusantara bukan semata-mata bisnis yang hanya mengejar untung besar. "Kalau niatmya memasukkan uang (berinvestasi) demi cari untung terus, saya tolak. Mahesa ini proyek social enterpreneur, bukan murni bisnis. Laba tidak selalu berwujud uang, tapi juga paseduluran (persaudaraan)," kata Sukiyat.

    DINDA LEO LISTY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.