Nenek Pembalap Michael Van Der Mark Pergi dari Ambon Karena RMS?

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rumah keluarga Pembalap Yamaha WSBK Michael Van Der Mark di Ambon, Maluku. TEMPO/KHAIRIYAH FITRI

    Rumah keluarga Pembalap Yamaha WSBK Michael Van Der Mark di Ambon, Maluku. TEMPO/KHAIRIYAH FITRI

    TEMPO.CO, Ambon - Pembalap Yamaha WSBK, Michael Van Der Mark menyatakan kelurga memiliki marga Matitaputty yang diungkap dalam akun Instagram @michaelvdmark. Ternyata keturunan dari Ambon berasal dari neneknya yaitu Yohana Matitaputty. Yohana yang menikah dengan warga Belanda melahirkan Juliet Matitaputty, yang merupakan ibu Michael Van Der Mark.

    "Kakak saya pindah ke Belanda sekitar tahun 1950 saat dalam tugas karena isu-isu RMS. Mereka khawatir orang-orang Ambon dicurigai lalu mereka memutuskan ke Belanda," kata Yesayas Matitaputty, adik nenek Michael Van Der Mark yang masih tinggal di Ambon kepada Tempo, Senin 16 Oktober 2017.

    Baca: Prestasi Michael Van Der Mark Pembalap WSBK yang Berdarah Ambon

    Ia menjelaskan Joke--panggilan nenek Michael Van Der Mark--merupakan seorang Pelajar pada sekolah kedokteran pribumi, sampai sekitar tahun 1950. Joke bersama sang kakak yang seorang pasukan Angkatan Udara mengungsi ke Belanda menyusul didirikannya Republik Maluku Selatan (RMS) pada 25 April 1950. Mereka ketakutan dianggap bagian dari RMS yang telah ditetapkan pemerintah sebagai pemberontak. Saat itu, banyak warga Ambon yang dicurigai sebagai pendukung RMS meski mereka tidak ada kaitannya dengan RMS.

    Menurut Yesayas, Joke atau Yohana dilahirkan dari rahim Juliana Iskak dari Jawa sementara suaminya berdarah Ambon, Zadrack Matitaputty. Sejak Joke--panggilan nenek Michael Van Der Mark--di Belanda, mereka tidak pernah pulang ke Indonesia. Kecuali, ibunya Juliet sempat mampir ke Indonesia pada 2006. "Ibu Michael mengunjungi sanak saudara di Ambon," ucapnya.

    Meskipun berada di Belanda, kata Yesayas, Keluarga Michael tidak sekalipun melupakan budaya leluhurnya. Hal tersebut diungkapkan Yesayas ketika Ibu Michael Van Der Mark berada di Ambon, ia tak hanya mengunjungi situs-situs bersejarah, pantai bahkan mencicipi semua makanan tradisional khas ambon seperti Papeda, ikan bakar lengkap dengan colo-colo.

    Baca: Pembalap Yamaha Van der Mark Akui Memiliki Darah Ambon

    Lanjut Yesayas, di Belanda pun mereka tetap mempertahankan nilai-nilai budaya Maluku. Keluarga Michael Van Der Mark masih mempertahankan penggunaan baniang dan baju cele yakni pakaian adat tradisional Maluku saat acara pernikahan keluarga atau kerabat di Belanda.

    “Mereka sangat mencintai budaya Maluku, sejak kecil Joke mengajarkan budaya Maluku sehingga tertanam di diri mereka walau mereka bermukim di Belanda," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.