NGK Kembangkan Baterai Solid State untuk Mobil Listrik

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Busi. Dok. NGK

    Ilustrasi Busi. Dok. NGK

    TEMPO.CO, Nagoya - Perusahaan busi asal Jepang, NGK Spark Plug, mulai mengantisipasi peraturan global dalam menekan emisi dari pembakaran yang dihasilkan mobil bertenaga konfensional. NGK mengikuti jejak Toyota dan sejumlah perusahaan lain dalam mengembangkan baterai solid-state untuk mobil listrik.

    Baterai solid-state diklaim memiliki kapasitas dan keamanan yang lebih tinggi ketimbang baterai lithium-ion konvensional dengan mengganti cairan elektrolit cair atau gel dengan bahan konduktif yang solid.

    Toyota mulai mengembangkan baterai dengan elektrolit padat berbasis sulfida, yang menawarkan konduktivitas tinggi dan relatif fleksibel, namun baterai dapat melepaskan hidrogen sulfida beracun saat terkena uap air.

    Baca: NGK Mulai Melirik Bisnis Baterai Kendaraan Listrik

    Sedangkan, NGK bertaruh pada teknologi kimia berbasis oksida menggunakan keramik yang sangat stabil pada suhu yang ekstrim, namun, baterai ini memiliki konduktivitas yang lebih sedikit. Selain itu, keramik cepat rapuh dan sulit untuk diproses.

    NGK juga mengembangkan baterai solid-state keramik, yang diklaim memiliki kapasitas lebih besar ketimbang baterai solid-state keramik kecil yang saat ini da di pasaran.

    "Ini relatif mudah untuk bekerja dalam ukuran yang lebih kecil, tapi ketika Anda sampai pada ukuran yang lebih besar, sangat sulit untuk merakit setiap lapisan karena sulit membuat masing-masing lapisan memiliki ketebalan yang sama," kata Hideaki Hikosaka, anggota baterai solid state NGK Spark Plug. Tim R & D, yang dikutip dari reuters Jumat, 22 Desember 2017.

    Simak: Honda Kembangkan Baterai Solid State untuk Mobil Listrik

    NGK telah menghabiskan lima tahun terakhir mengembangkan elektrolit berbasis oksida padat, yang menggabungkan bahan tambahan untuk membuatnya menyerupai produk berbasis sulfida.

    Hal tersebut membuat elektrolit lebih mudah diolah menjadi lapisan tipis yang lebih besar yang dikompres, membuatnya lebih mudah untuk ditumpuk dengan anoda dan katoda.

    "Itu karena penambahan material itu sehingga kita bisa mengolah lapisan dengan menggunakan kompresi (bukan sintering) untuk membuat sel baterai oksida yang lebih besar. Pada saat yang sama, tidak melepaskan gas seperti sulfida, "kata Hikosaka menambahkan.

    Akibatnya, NGK telah mengembangkan sel kantong baterai 10 cm x 10 cm, baterai itu jauh lebih besar dari 4,5 mm x 3,2 mm yang ada di pasaran.

    Hikosaka mengatakan, timnya bekerja untuk meningkatkan kepadatan energi baterai agar sesuai dengan kinerja baterai lithium ion, hal tersebut diperkirakan selesai sekitar tahun 2020.

    REUTERS | NAUFAL SHAFLY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.