Kaleidoskop 2017: Mobil Cina Wuling dan Sokon Agresif Menyerang

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wuling Confero S saat media test drive di Pulau Bali, 11-13 Oktober 2017. TEMPO/Wawan Priyanto.

    Wuling Confero S saat media test drive di Pulau Bali, 11-13 Oktober 2017. TEMPO/Wawan Priyanto.

    TEMPO.CO, Jakarta - Brand mobil Cina selama ini dipandang sebelah mata. Namun kini pabrikan Cina, Wuling dan Sokon tak main-main dalam menghadapi persaingan dan tak mau brand mereka hilang setelah kalah bertarung. Pada 2017, mereka mulai agresif berani menantang produsen atau pabrikan mobil asal Jepang di segmen yang merupakan ladang penjualan terbesar yaitu Low Multi-Purpose Vehicle (LMPV).

    Penjualan mobil merek asal Cina pada tahun ini meningkat cukup tajam. Dari data yang dirilis Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), 3 Desember 2017, total penjualan selama Januari-Oktober 2017 sebanyak 3.331 unit. Angka ini naik sangat tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu hanya 66 unit.

    Penyokong terbesar penjualan mobil Cina adalah PT SAIC General Motors Wuling Indonesia dan PT Sokonindo Automobile. Kedua pabrikan ini mulai menjajaki pasar mobil penumpang. Hingga Oktober lalu, Wuling yang merupakan pemain baru di pasar otomotif nasional telah membukukan penjualan sebanyak 3.115 unit. Sementara penjualan Wuling pada November 2017 sebanyak 803 unit. Angka itu cukup besar apalagi Wuling Confero baru dipasarkan selama lima bulan. Adapun Sokon mencatatkan penjualan sebanyak 68 unit.

    Baca: Wuling dan Sokon Dinilai Akan Dorong Penjualan Mobil Tahun Depan

    Sokon memang masih minim, karena sejauh ini perusahaan baru memasarkan produknya di segmen komersial ringan, yakni pikap SuperCab. Perusahaan ini memasarkan mobil penumpang pada tahun depan. Sisanya, Faw telah menjual produknya sebanyak 148 unit, naik di atas 100 persen dibandingkan capaian pada periode yang sama tahun lalu yakni sebanyak 66 uni. Sedangkan Geely tidak membukukan penjualan sejak tahun lalu.

    Tahun depan pun, Wuling dan Sokon telah menyiapkan senjata untuk mengaet pasar mobil Indonesia yang gurih. Wuling telah menyiapkan Wuling Cortez di segmen Medium MPV dan Sokon menyasar pasar SUV dengan Sokon Glory 580. Beberapa waktu lalu, pengamat otomotif Bambang Trisulo menilai mobil Cina bisa mengambil pasar menengah-bawah. "Potensinya besar untuk mobil seharga kurang dari Rp 200 juta," ujarnya. Namun brand Cina untuk bisa mengalahkan merek Jepang, kata dia, butuh waktu 20 tahunan.

    Glory 580 SUV 7 seater buatan Sokon yang akan dipasarkan pada Februari 2018. Tempo/Wawan Priyanto

    Menurut Wakil Presiden VSSM Wuling Motors Cindy Cai, Wuling akan fokus pada segmen MPV dengan alasan pasar MPV merupakan pasar yang paling berpotensial dan paling dicari oleh konsumen Indonesia. "Kami menambah opsi bagi konsumen, dengan pilihan fitur baru, kenyamanan berkendara yang baru, dan rasa elegan yang baru," ujarnya saat perilisan Wuling Cortez.

    Wuling saat terjun dalam persaingan pasar otomotif di Indonesua. Wuling menanamkan investasi berupa sebuah pabrik dengan luas 60 hektare di kawasan Cikarang, Jawa Barat. Jumlah investasi yang dikeluarkan sebesar US$700 juta atau setara Rp9,3 triliun untuk pabrik, sehingga konsumen tidak perlu merasa was-was saat membeli produknya. Bahkan Wuling menjanjikan sedikitnya 50 diler yang akan rampung pada 2017 sebagai layanan purna jual.

    Baca: Cara Sokon Menghilangkan Stigma Negatif Produk Otomotif Cina

    Tak mau kalah dari Wuling, Sokon pun memiliki pabrik di Serang seluas 20 hektar, dengan kapasitas produksi sampai 50.000 setiap tahunnya. Investasi yang digelontorkan US$ 150 juta dan akan ditingkatkan sampai US$ 300 juta untuk membangun engine plant. Kapasitas produksinya 56 ribu unit per tahun.

    Sokon Industry Group Deputy Chairman of The Board, Zhang Xingming mengatakan bahwa Indonesia telah menjadi negara tujuan investasi Sokon. “Kami menjamin produk yang dibuat di pabrik Sokonindo telah memenuhi kualitas yang baik. Kami berharap bisa berkontribusi lebih banyak lagi untuk perekonomian di Indonesia,” kata Zhang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kebijakan Lockdown Merupakan Kewenangan Pemerintah Pusat

    Presiden Joko Widodo menegaskan kebijakan lockdown merupakan wewenang pusat. Lockdown adalah salah satu jenis karantina dalam Undang-undang.