Produsen Rem Beken Brembo Recall Produknya, Ini Penyebabnya

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Master rem Brembo PR 16 yang mengalami kerusakan pada pistonnya. Sumber: asphaltandrubber.com

    Master rem Brembo PR 16 yang mengalami kerusakan pada pistonnya. Sumber: asphaltandrubber.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Produsen rem kenamaan di dunia, Brembo melakukan penarikan produknya secara besar-besaran. Menurut pabrikan asal Italia ini masalah utamanya berasal dari unit master rem radial Brembo PR 16 yang sering dipasangkan dengan kaliper Brembo M50, mengalami retak pada pisto master sehingga menyebabkan rem depan tak berfungsi.

    Baca: Inilah Quad Bike Termahal di Dunia

    Kerusakan pada piston yang mengalami kerusakan bisa jadi karena saat motor digunakan dalam balapan, seringnya intervensi ABS atau motor pernah jatuh. Ketika piston retak, rem depan kemungkinan tidak beroperasi dengan normal selama prosedur pengereman dan bisa menimbulkan kegagalan pengereman.

    Brembo telah dapat menemukan sumber masalahnya yaitu penggunaan piston yang terbuat dari sejenis plastik (polifenilena sulfida). Untuk memperbaiki kondisi ini, Brembo akan mengganti pistonnya dengan bahan aluminium.

    Brembo menarik model Aprilia dan Ducati yang dilengkapi dengan kit Brembo, yang berarti pengaruhnya pada lineup Aprilia RSV 4 2016-2017 dan 2017 model Aprilia Tuono 1100.

    Baca: Penjualan Sedan Medium November 2017: Toyota Camry Masih Jawara

    Menurut dokumen yang diajukan National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA), sekitar 1 persen dari 1.800 unit Aprilia yang terdampak menunjukkan adanya retakan piston silinder master rem Brembo . Namun, Brembo juga menarik paket pengereman PR 16 yang dijual sebagai part aftermarket atau part pengganti. Brembo menjamin penggantian ini tidak dipungut biaya.

    ASPHALTANDRUBBER


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.