Senin, 19 Februari 2018

Kata Pembalap Soal Perbedaan Kawasaki Ninja 250 Baru dan Lama

Reporter:

Eko Ari Wibowo

Editor:

Wawan Priyanto

Jumat, 12 Januari 2018 11:46 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kata Pembalap Soal Perbedaan Kawasaki Ninja 250 Baru dan Lama

    Dua pembalap Kawasaki, AM Fadly dan Jonathan Rea usai menjajal Kawasaki Ninja 250 terbaru di Sirkuit Sentul, Jumat, 12 Januari 2018. TEMPO/Eko Ari Wibowo

    TEMPO.CO, Sentul Kawasaki Motor Indonesia menggelar test drive Kawasaki Ninja 250 di Sirkuit Sentul, Jawa Barat Jumat 12 Oktober 2018. Model yang dirilis akhir tahun lalu ini akan dipasarkan mulai pertengahan bulan Januari 2018.

    Pembalap Kawasaki Manual Tech AM Fadly mengatakan ada sejumlah perbedaan besar antara Kawasaki Ninja 250 baru dengan versi lama. "Motor baru ini lebih ringan, handling dan engine-nya responsif," kata Fadly seusai menjajal Kawasaki Ninja 250.

    Baca: Di Jepang, Power Kawasaki Ninja 250 Baru Disunat Hanya 37 PS

    Ia mengungkapkan perbedaan antara versi lama dengan versi baru hingga 85 persen. Menurutnya, responsif mesin sangat berbeda dengan versi lama. Top speed yang mampu diraih di Sirkuit Sentul, kata dia, menyentuh hingga 169 kilometer per jam pada 14.000 rpm namun gas belum habis.

    "Kalau yang lama loading nya agak lama, kalau versi baru power langsung keluar," ucapnya.

    Simak: KMI Luncurkan All New Kawasaki Ninja 250, Ini Keunggulannya

    Fadly mengatakan motor ini sangat cocok dengan kemacetan di Jakarta. Ia mengatakan motor ini sangat ringan dan power nya mudah diraih dari bawah hingga atas. Soal persaingan dengan Honda, ia menyakini Kawasaki Ninja 250 akan bersaing.

    Pembalap Superbike Kawasaki Jonathan Rea mengatakan sangat takjub dengan motor baru Kawasaki tersebut. "Motor ini sangat ringan," ujar Rea yang baru pertama kali menjajal motor ini.


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    JR Saragih dan 4 Calon Kepala Daerah Terganjal Ijazah dan Korupsi

    JR Saragih dicoret dari daftar peserta pemilihan gubernur Sumut oleh KPU karena masalah ijazah, tiga calon lain tersandung dugaan korupsi.