Fitur Canggih di Mobil Bisa Naikkan Biaya Asuransi, Ini Alasannya

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi asuransi mobil. dailymail.co.uk

    Ilustrasi asuransi mobil. dailymail.co.uk

    TEMPO.CO, Jakarta - Fitur canggih dalam sebuah mobil juga ikut menaikkan biaya asuransi karena fasilitas berteknologi tinggi disediakan dengan harga yang cukup mahal. Fitur canggih itu seperti sensor, kamera, kontrol layar sentuh, dan pemantauan blind-spot, yang memudahkan pengemudi.

    "Jika rusak, harganya jauh lebih mahal untuk diperbaiki," kata James Lynch dari Insurance Information Institute, yang berbasis di New York, seperti dilansir USA Today, Selasa, 22 Januari 2018.

    Baca: Tip Memilih Asuransi Mobil

    Menurut data Liberty Mutual Insurance, jika sebelumnya memperbaiki bumper yang penyok adalah hal mudah, kini untuk mereparasi bagian itu memerlukan biaya US$ 3.550 atau sekitar Rp 47 juta untuk mobil mewah kelas entry level keluaran 2016, sementara model 2014 seharga US$ 1.845 atau sekitar Rp 24 juta.

    Hal itu disebabkan model 2016 memiliki sensor jarak, tapi tidak pada model 2014. Suku cadangnya 130 persen lebih mahal dan biaya tenaga kerja 18 persen lebih tinggi. "Sekarang, perbaikan kecil dan sederhana lebih mahal dan rumit," kata Maxime Rieman, manajer produk untuk asuransi di Value Penguin.

    Di sisi lain, konsumen kerap tidak memikirkan biaya asuransi saat membeli mobil baru atau bekas. Karena itu, mereka disarankan menyiapkan dana lebih untuk asuransi yang mencakup fitur canggih dan kelengkapan keselamatan terkini lain. "Untuk meningkatkan keamanan, hal itu juga meningkatkan premi pada polis," kata Todd Kozikowski, petinggi Clearsurance.

    Baca: Ini Penyebab Dana Asuransi Tak Bisa Dicairkan Setelah Kecelakaan

    Kerusakan pada fitur keselamatan bisa saja terjadi karena beberapa sensor ditempatkan di bumper dan kaca spion, yang mudah terkena benturan dalam suatu insiden.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.