3 Faktor yang Bisa Mendorong Konsumen Beralih ke Mobil Listrik

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjajal mobil listrik Nissan Note e-Power di ICE, BSD City, Tengerang, Banten, Senin, 13 November 2017. Dok. Nissan

    Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjajal mobil listrik Nissan Note e-Power di ICE, BSD City, Tengerang, Banten, Senin, 13 November 2017. Dok. Nissan

    TEMPO.CO, Singapura - Hasil riset dari Frost & Sullivan Mobility menunjukan 66 persen konsumen menekankan faktor keamanan sebagai motivasi terpenting dalam membeli mobil listrik. Faktor keduanya kemudahan dalam melakukan pengisian ulang sebesar 61 persen.

    "Biaya menjadi faktor yang tidak terlalu signifikan, bahkan konsumen bersedia membayar lebih mahal untuk memiliki mobil listrik, dibandingkan mobil konvensional yang setara," ujar Vivek Vaidya, Vice President, Automotive & Transportation Practice, Asia-Pacific, Frost & Sullivan, Selasa, 6 Februari 2018.

    Baca: Nissan Ajak Perwakilan Pemerintah ke Singapura, Ini yang Dibahas

    Hasil riset juga menunjukan sebanyak 53 persen konsumen mengatakan harga yang lebih murah akan mendorong mereka untuk mempertimbangkan mobil listrik. Mereka menyatakan siap bermigrasi ke mobil listrik jika pajaknya ditiadakan. Insentif lain yang akan mendorong keputusan konsumen beralih ke mobil listrik adalah jalur prioritas untuk kendaraan listrik sebanyak 56 persen responden dan parkir gratis 53 persen.

    Jika dukungan terhadap insentif itu bisa difasilitasi oleh pemerintah, hal itu akan mempercepat migrasi ke mobil listrik.

    Yutaka Sanada, Regional Senior Vice President Nissan Motor Co. Ltd, memastikan mobil listrik yang diproduksi pihaknya sudah melewati uji coba dalam kondisi ekstrim. "Kami bangga untuk menyampaikan bahwa 300.000 pembeli kendaraan Nissan Leaf telah berkendara lebih dari 3,9 miliar kilometer di seluruh dunia sejak 2010 dan tidak pernah ada insiden kritis apapun menyangkut baterainya," ujar Sanada.

    Selain itu, Sanada mengatakan agar mengatasi masalah itu dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah dan swasta. “Lompatan pesat menuju elektrifikasi mobil membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pihak pemerintah dan swasta juga pendekatan jangka panjang," ujar Yutaka.

    Penelitian dengan tema “Future of Electric Vehicles in Southeast Asia” yang didukung Nissan ini dilaksanakan oleh Frost and Sullivan pada Januari lalu di enam negara yakni Singapura, Indonesia, Thailand, Malaysia, Vietnam and Filipina. Temuan soal mobil listrik didasarkan pada 1.800 responden konsumen secara daring dan tatap muka.

    Baca: Ini Penyebab Regulasi Soal Mobil Listrik Belum Tuntas

    Frost & Sullivan Mobility merupakan penyedia data pemasaran intelijen global, riset yang dilakukan untuk mengeksekusi potensi pertumbuhan pasar dan jasa rekomendasi yang dibuat khusus untuk mobilitas pasar yang personal maupun jarak jauh.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tiga Pansel Capim KPK dan Konflik Kepentingan dengan Kepolisian

    Koalisi Kawal Calon Pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi mendesak Jokowi agar menelusuri dugaan konflik kepentingan tiga anggota pansel capim KPK.