Kisah Pembeli Wuling Cortez Sempat Bimbang, Sebelum Bayar Cash

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wuling Motors Indonesia meluncurkan Wuling Cortez yang akan bersaing di segmen MPV bersama Toyota Kijang Innova. Model ini baru akan dipasarkan pada awal tahun depan. Sentul, 18 Desember 2017. TEMPO/Naufal Shafly

    Wuling Motors Indonesia meluncurkan Wuling Cortez yang akan bersaing di segmen MPV bersama Toyota Kijang Innova. Model ini baru akan dipasarkan pada awal tahun depan. Sentul, 18 Desember 2017. TEMPO/Naufal Shafly

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Herry Susanto, salah satu wiraswasta di Yogyakarta, melihat-lihat kondisi Wuling Cortez yang telah dipesannya di dealer. Heri mendatangi di diler di Jalan Ring Road Utara, Yogyakarta, Selasa 13 Februari 2018, sehari setelah mobil jenis MPV ini diluncurkan di kota ini.

    Heri sebetulnya telah jauh-jauh hari memesan kendaraan itu. Meski belum diluncurkan ke pasar, Wuling Motor memang telah membuka pesanan Wuling Cortez sejak awal Januari 2018.

    Hery adalah salah satu dari 600-an pembeli yang melakukan pemesanan hingga saat itu. Heri mengaku tidak melakukan test drive Wuling Cortez sebelum membelinya. Dia mengaku tetap yakin mengisi surat pemesanan kendaraan (SPK).

    Baca: Meski Merek Cina, Kandungan Lokal Wuling Cortez 50 Persen

    Hitung-hitungan untung dan rugi menjadi pertimbangannya ketika mengambil keputusan membeli Wuling Cortez. Harganya jauh lebih murah dibandingkan kendaraan serbaguna medium lain tetapi fitur lebih lengkap.

    Hery membayar Cortez dengan harga on the road Yogyakarta Rp273 juta, dengan fitur yang terlengkap lengkap. Sementara model yang sama dari merek lain, dengan fitur yang lebih minim, harganya mencapai Rp350 juta.

    Alasan lain yang membuatnya yakin adalah investasi yang dilakukan produsen asal Cina. Wuling diyakini akan terus melakukan pengembangan produk-produknya karena telah membangun pabrik di Indonesia.

    "Iya karena saya lihat fiturnya dan Wuling ini pabriknya sudah di Indonesia, saya sudah mengikuti dari awal," katanya.

    Perusahaan yang telah berinvestasi membangun pabrik, diyakininya pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan modal yang telah ditanamnya, dan tidak akan rela begitu saja kalah dari para pesaingnya.

    Kondisi tersebut akan berbeda jika Wuling tidak menanamkan modalnya di Indonesia, dan hanya mengimpor kendaraan-kendaraan yang akan dijualnya. "Kalau ada pabrik di sini pasti inovasi terus dan tak mau kalah, dari harga dan teknologi tidak tertinggal, karena mempertaruhkan investasi besar, jadi jangka panjang," katanya.

    Ruslan, seorang wiraswasta, juga menjadi pembeli Wuling Cortez. Senada dengan Hary, Ruslan menjadikan keberadaan pabrik Wuling di Indonesia sebagai alasan baginya untuk membeli kendaraan roda empat yang dibanderol murah itu.

    Berbeda dengan Hary, Ruslan mengaku telah melakukan uji berkendara Wuling Cortez sebelum memutuskan untuk membelinya. "Rasanya nyaman ketika berada di dalam, dan mengendarainya."

    Selain Cortez, mobil sebelumnya yang diproduksi dan dipasarkan Wuling Motor di Indonesia yaitu Wuling Confero dengan harga mulai Rp128,8 juta hingga Rp165,9 juta.

    Harga yang lebih murah dengan fitur yang lebih lengkap merupakan strategi perusahaan dalam menggarap pasar kendaraan roda empat di dalam negeri.

    Baca: 2018, Wuling Agresif Bangun Puluhan Dealer Buktikan Keseriusan

    "Perusahaan dapat menerapkan harga yang lebih rendah dengan fitur yang jauh lebih lengkap dibandingkan kendaraan merek lain di segmen yang sama karena banyak faktor," kata Brand Manager PT SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors) Dian Asmahani.

    Meski harga Wuling Cortez miring, Wuling mengklaim masih mendapatkan margin keuntungan. "Tak mungkin berusaha tanpa margin keuntungan," kata Dian. Namun, seberapa lama strategi harga murah bisa diterapkan untuk menggaet pembeli, Dian enggan mengungkapkan. “Kita liat nanti,” katanya.

    Hanya saja, banyak faktor yang akan memengaruhi kenaikan suatu harga produk, seperti material, tenaga kerja, dan pajak. Dalam industri manufaktur, katanya, beban biaya operasional merupakan komponen terbesar dalam pembentukan harga kendaraan.

    Sepanjang tahun ini, perusahaan menargetkan penjualan Wuling sebanyak 30.000 unit atau naik enam kali lipat dari penjualan sepanjang tahun lalu, yakni sekitar 5.050 unit sepanjang tahun lalu.

    Tidak hanya itu, perusahaan juga menargetkan dapat memiliki 80 diler tahun ini. Saat ini Wuling memiliki 54 diler. “Intinya, kalau kami sih, inginnya seperti saat ini, seperti sekarang karena dengan kondisi sekarang kami menawarkan produk dan harga terbaik buat konsumen, secara continue akan seperti itu,” katanya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.