Penyebab Onderdil Mercedes-Benz Masih Diimpor dari Jerman dan AS

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Proses perakitan mobil Mercedes-Benz  di Wanaherang, Gunung Putri, Bogor, 24 Jnauari 2017. Mercedes-Benz E-Class meneruskan generasi sebelumnya yang sudah dirakit lebih dari 6.000 unit di Wanaherang. Tempo/Tony Hartawan

    Proses perakitan mobil Mercedes-Benz di Wanaherang, Gunung Putri, Bogor, 24 Jnauari 2017. Mercedes-Benz E-Class meneruskan generasi sebelumnya yang sudah dirakit lebih dari 6.000 unit di Wanaherang. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Mercedes-Benz Distribution Indonesia (MBDI) telah melakukan perakitan lokal untuk mobil yang dijual di Indonesia. Meski demikian, hampir seluruh komponen kendaraan penumpang Mercedes-Benz masih diimpor dari negara lain. Mercedes-Benz beralasan hal itu dilakukan karena perhitungan bisnis.

    “Kalau kami produksi komponen juga di Indonesia itu bisa jauh lebih mahal dibandingkan impor karena volume penjualan kami kecil,” kata President Director MBDI Roelof Lamberts di pabrik perakitan Wanaherang, Bogor, Jawa Barat, Jumat 9 Maret 2018.

    Dia melanjutkan saat ini lebih dari 70 persen kendaraan penumpang Mercedes-Benz yang dijual di Indonesia sudah dirakit lokal. Pabrik dengan 2 jalur produksi itu merakit 3 model sedan, yaitu C Class, E Class, S Class, dan SUV (sport utility vehicle) GLC, GLE, dan GLS.

    Baca: Mercedes Benz Bangkitkan Sasis Handal untuk Bus AKAP

    Seluruh bodi kendaraan didatangkan dalam keadaan sudah dicat. Mesin pun didatangkan secara utuh, kecuali C 200 yang didatangkan per komponen untuk selanjutnya dirakit di Wanaherang.

    Departement Manager Public Relations MBDI Dennis A. Kadaruskan mengatakan hanya ban yang dipasok oleh perusahaan lokal. Selebihnya, didatangkan langsung dari Amerika Serikat dan Jerman.

    Adapun berdasarkan data internal perusahaan, sepanjang 2017 MBDI membukukan penjualan ritel kendaraan penumpang sebanyak 3.386 unit. Pangsa pasar merek premium asal Jerman ini 0,32 persen terhadap total volume pasar kendaraan bermotor roda empat dan lebih.

    Baca: Brabus Keluarkan Model Jip Siap Lawan Land Rover Defender

    Kariyanto Hardjosoemarto, Deputy Director Sales Operation & Product Management MBDI mengatakan bahwa tidak ada pertumbuhan berarti pada tahun lalu. “Tahun ini, kami ingin menjual sebanyak-banyaknya,” kata Karyanto.

    Karyanto menjelaskan pada tahun lalu pertumbuhan kendaraan penumpang Mercedes-Benz paling tinggi berada pada segmen sport utility vehicle (SUV). Kategori ini berkontribusi sebanyak 29 persen. Namun secara keseluruhan, untuk kendaraan penumpang, sedan masih mendominasi. Kontribusinya menurun dari 56 persen menjadi 53 persen pada tahun lalu.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.