'Perang' dengan Trump, Produsen Mobil Eropa Ancam Tarik Investasi

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Donald Trump dan Penasihat ekonomi utama Gedung Putih Gary Cohn. businessinsider.com

    Presiden Donald Trump dan Penasihat ekonomi utama Gedung Putih Gary Cohn. businessinsider.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Perang dagang yang dilancarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump lewat pengenaan tarif impor baja dan aluminium terus menuai reaksi keras. Produsen otomotif asal Eropa mengancam akan menarik investasi mereka di Negeri Abang Sam itu jika Donald Trump tak mencabut ketentuan tarif impor tersebut.

    ”Jika kami menghadapi hambatan tarif, akan ada dampaknya pada penciptaan lapangan kerja di Amerika Serikat,” kata Kepala Eksekutif BMW Harald Krüger, seperti dikutip MSN.

    Ancaman tersebut benar-benar akan terjadi, lantaran produsen otomotif bakal menghadapi mahalnya biaya bahan baku, seperti baja dan aluminium, yang rata-rata masih diimpor. Jika merek-merek kendaraan Eropa menutup pabrik mereka, Amerika Serikat akan menghadapi masalah ketenagakerjaan hingga penurunan ekspor. Sebab, BMW, Volkswagen, Mercedes, Volvo, dan beberapa produsen lain membangun pabrik di Amerika Serikat sebagai basis produksi untuk pasar Amerika Utara, Eropa, hingga Cina.

    Baca: Jelajah 5 Kota BMW 520i: Jakarta-Surabaya Cuma 50 Liter

    BMW saat ini mempekerjakan 36.500 warga Amerika Serikat di pabrik mereka yang berlokasi di South Carolina, Alabama, dan Tennessee. BMW bisa saja memindahkan pabrik tersebut ke Meksiko atau negara lain apabila menghadapi masalah yang berkaitan dengan biaya operasi dan daya saing. Adapun Volvo tengah mempertimbangkan kembali rencana membangun pabrik sedan S60 di Charleston, South Carolina, lantaran masalah tarif impor.

    ”Jika pabrik di South Carolina tak mampu mengekspor, kami akan pangkas separuh kapasitasnya. Pabrik itu tak akan lagi menyerap 4.000 tenaga kerja, melainkan hanya 2.000 orang,” kata Kepala Eksekutif Volvo Håkan Samuelsson. ”Itulah dampak langsung dari perang dagang yang dikobarkan Amerika Serikat.”

    Tarif impor bakal menurunkan sepertiga dari volume mobil baru yang dipasarkan di Amerika Serikat. Sebagian besar kendaraan tersebut berasal dari pabrik di Meksiko yang dibangun setelah Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) berlaku pada 1994. Sedangkan pasokan kendaraan dari Jerman turun 25 persen. Produsen kendaraan Amerika pun menilai kebijakan Trump keliru.

    Presiden Ford Eropa, Steven Armstrong, membantah pandangan Trump, yang mengira penjualan mobil asal Amerika dihambat di Eropa. ”Dia tidak melihat seperti apa ramainya gerai kami. Jika produk kami sesuai dengan selera pasar, konsumen akan membelinya,” ucapnya.

    Baca: Inilah Kejutan BMW yang Disiapkan Menghadapi IIMS 2018

    Sebelumnya, perundingan antara Uni Eropa dan Amerika Serikat menemui jalan buntu. Komisioner Perdagangan Uni Eropa Cecilia Malmstrom mengatakan Amerika tak bisa memberi kepastian mengenai peluang pembebasan tarif impor pada Eropa. Komisi Uni Eropa pun menyiapkan balasan berupa bea masuk yang ditargetkan mencapai US$ 3,52 miliar untuk produk khas Amerika, dari Bourbon, selai cranberry, jins Levi’s, sampai sepeda motor Harley-Davidson. Uni Eropa juga akan membawa masalah ini ke forum Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.