Senin, 10 Desember 2018

Subsidi Dipangkas, Laba Pabrikan Mobil Listrik di Cina Anjlok

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mobil listrik BYD E6 di Beijing Auto Cina di Beijing.  AP Photo/Alexander F. Yuan

    Mobil listrik BYD E6 di Beijing Auto Cina di Beijing. AP Photo/Alexander F. Yuan

    TEMPO.CO, Jakarta - Dalam beberapa bulan terakhir, banyak pabrikan kendaraan listrik, termasuk mobil listrik baru di Cina yang menghadapi situasi tidak biasa, yaitu penjualan yang terus meningkat, namun laba menurun secara signifikan.

    Menurut Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi Cina, sebanyak 143 ribu  kendaraan listrik, termasuk mobil listrik, telah terjual di Cina dalam kuartal pertama 2018, naik sebesar 154 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

    Namun, BYD, produsen mobil listrik terkemuka di Cina, membukukan laba sebesar 102 juta yuan (sekitar Rp 226 miliar), turun 83 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

    Baca: Kota Hangzhou Mulai Bangun Fasilitas Charging Mobil Listrik

    Dua perusahaan bus listrik di Cina, Yutong Bus dan Zhongtong Bus, juga melaporkan penurunan laba sebesar 22 dan 67 persen masing-masing di 2017.

    Perusahaan-perusahaan ini menghubungkan penurunan laba dengan penghapusan subsidi dari pemerintah yang dilakukan secara bertahap. Subsidi pemerintah tersebut dimulai pada 2010 lalu untuk mendorong pertumbuhan di sektor kendaraan energi alternatif.

    Didorong oleh kebijakan pemerintah yang menguntungkan serta meningkatnya permintaan kendaraan listik dari konsumen yang mulai sadar lingkungan, produksi dan penjualan tahunan kendaraan listrik di Cina menjadi nomor satu di dunia dari 2015 hingga 2017. Pada akhir 2017, penjualan kumulatif melebihi 1,8 juta unit atau lebih dari setengah total penjualan kendaraan listrik di seluruh dunia.

    Namun pada saat yang bersamaan, beberapa pabrikan kendaraan listrik bermain curang terhadap penawarannya untuk tujuan menerima subsidi. Tindakan ini merugikan kepentingan konsumen dan menciptakan kekacauan di pasar.

    Baca: Bebas Pajak, Penjualan Mobil Listrik di Cina Melonjak

    Pada bulan Desember 2016, sejumlah kementerian Cina bersama-sama mengeluarkan kebijakan untuk mengurangi subsidi kepada pembeli kendaraan energi alternatif, kecuali kendaraan elektronik sel bahan bakar, sebesar 20 persen pada 2019 dan 2020.

    Februari ini, mereka mengumumkan potongan subsidi lebih lanjut sebesar 30 persen untuk kendaraan listrik selama periode Februari-Juni.

    Perubahan kebijakan tersebut mendorong beberapa pabrikan kendaraan listrik untuk mengambil sebuah tindakan agar terhindar dari dampak negatif.

    BAIC BJEV, pabrikan kendaraan listrik terkemuka lainnya di Cina, memulai program yang memungkinkan konsumen untuk menukar atau mendaur ulang baterai kendaraan mereka, sebagai upaya untuk meningkatkan utilitas baterai tersebut.

    Baca: Cina Dirikan 100 Ribu Tiang Charger Mobil Listrik di Beijing

    "Untuk meningkatkan daya saing kami, BAIC menerapkan gaya pemasaran baru pada tahun ini dengan memotong harga mobil dan meningkatkan efisiensi baterai," kata Li Yixiu, wakil General Manager perusahaan tersebut.

    Untuk hal ini, BYD juga telah mengerahkan upaya untuk mengembangkan model kendaraan yang memenuhi kriteria baru subsidi pemerintah, juga mesin listrik yang lebih bertenaga dan baterai yang lebih efisien.

    Meskipun ada penurunan laba yang signifikan, para eksekutif perusahaan tetap merasa optimis dengan prospek pasar mobil listrik di negara Tirai Bambu tersebut.

    "Tekanan pasar telah mendorong kami untuk meningkatkan daya saing. Kami sangat yakin dengan teknologi, rantai produksi, dan strategi perusahaan kami," kata Hu Enping, Chief Brand Officer BAIC BJEV.

    CHINA DAILY | RYAN DWIKY ANGGRIAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Berupaya Mencegah Sampah Plastik Hanyut ke Laut

    Pada 2010, Indonesia menjadi negara penyumbang sampah plastik nomor dua di dunia. Ada 1,29 juta ton sampah plastik hanyut ke laut.