Sokonindo Produsen DFSK Bersiap Produksi Mobil Listrik

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • DFSK Glory 580 di IIMS 2018. 19 April 2018. TEMPO/Wawan Priyanto

    DFSK Glory 580 di IIMS 2018. 19 April 2018. TEMPO/Wawan Priyanto

    TEMPO.CO, Bandung - Selain memasarkan sport utility vehicle (SUV) bermesin bensin, PT Sokonindo Automobile produsen DFSK bersiap mengembangkan model kendaraan masa depan. Chief Executive Officer Sokonindo, Alexander Barus, mengatakan akan mengembangkan mobil listrik di pabrik Sokon, Cikande, Banten. "Kami akan sampai ke sana, mengembangkan mobil listrik seiring dengan produksi mobil dengan internal combustion (mesin konvensional)," kata dia di Hotel Intercontinental Bandung, Selasa malam, 5 Juni 2018.

    Menurut Alexander, Dongfeng Motor Corporation selaku pemegang merek Sokon dan DFSK sudah memiliki pusat pengembangan mobil listrik di Michigan, Amerika Serikat, dan di beberapa kawasan di Eropa. Produsen mobil asal Cina itu juga memiliki tim engineer khusus yang akan mengembangkan mobil listrik dan mobil swagerak (autonomous vehicle). Ke depan, kata Alex, tim tersebut bakal menularkan keahliannya di pabrik Sokon di Indonesia.

    Baca: Sokonindo Produsen DFSK Akan Bangun Pabrik Mesin Tahun Ini

    Di negara asalnya, Cina, Sokon telah membuat mobil van bertenaga listrik dengan nama Sokon EC 35. Chongqing Sokon Industry Group, perusahaan yang membawahkan merek Sokon, meluncurkan divisi baru untuk memproduksi mobil listrik bernama SF Motors. SF Motors menggandeng produsen kendaraan listrik Amerika, Tesla Inc, untuk mengembangkan produk-produk baru. Bahkan, SF Motors menunjuk Kepala Eksekutif Tesla, Martin Eberhard, sebagai konsultan.

    Ihwal pengembangan mobil listrik, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan sedang menyelesaikan peraturan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) untuk kendaranan jenis ini. Nantinya mobil listrik bisa dikenai pajak 0 persen dan bea masuk 5 persen. Airlangga menuturkan, pemberian insentif tersebut bertujuan mendorong perkembangan industri mobil listrik nasional. "Kami mendorong mobil low carbon emission vehicle (LCEV) agar tidak dianggap barang mewah lagi," kata dia, beberapa waktu lalu.

    Simak: DFSK Segera Ekspor Glory 580 ke Negara ASEAN

    Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika, Harjanto, mengatakan, sebelumnya, bea masuk untuk mobil listrik mencapai 50 persen. "Bea masuk target menjadi 5 persen dan PPnBM jadi 0," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Uji Praktik SIM dengan Sistem Elekronik atau e-Drives

    Ditlantas Polda Metro Jaya menerapkan uji praktik SIM dengan sistem baru, yaitu electronic driving test system atau disebut juga e-Drives.