Mudik 2018: Waspada Titik Rawan di Jalur Selatan

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Arus mudik di jalur selatan mengalami kemacetan panjang dan mengular di turunan Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, (4/8). Kemacetan panjang ini membuat polisi menutup jalur Nagreg dan dialihkan via Kadungora. TEMPO/Pima Mulia

    Arus mudik di jalur selatan mengalami kemacetan panjang dan mengular di turunan Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, (4/8). Kemacetan panjang ini membuat polisi menutup jalur Nagreg dan dialihkan via Kadungora. TEMPO/Pima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah rute mudik di jalan nasional atau jalan non-tol masih rawan dilalui saat arus mudik 2018. Selain banyak terdapat tikungan dan tanjakan, jalur nasional yang menjadi lintasan alternatif mudik Lebaran 2018 itu berisiko tinggi lantaran minim penerangan dan rambu-rambu lalu lintas.

    Tempo sempat menyusuri jalur selatan Jawa Tengah, seperti jalan lintas Kabupaten Purworejo, Cilacap, dan Banjar, pada 4-5 Juni lalu. Melintas pada malam hari, tim menjumpai banyak tikungan tajam yang tak dilengkapi penerangan, baik lampu maupun sekadar pemantul cahaya atau tolo-tolo.

    Jalan lintas Kecamatan Majenang, Cilacap, misalnya, dilengkapi banyak tiang lampu, namun tak menyala, sedangkan banyak kendaraan melintas. Menuju Banjar, semakin banyak pula marka jalan yang pudar dan tak terlihat di bawah lampu kendaraan.

    Baca: Mudik 2018: Inilah Daerah yang Harus Diwaspadai Pemudik Motor

    Dari pengamatan Tempo di masa pra-mudik tersebut, kendaraan berat seperti bus antarkota masih mampu memacu kecepatan hingga 60 kilometer per jam.

    Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Budi Setiyadi, mengatakan pihaknya berbagi tugas melengkapi rambu jalan bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Kelengkapan rambu, menurut dia, sering terhambat faktor non-teknis.

    "Di jalan nasional, kadang kita baru memasang lampu penerangan jalan umum (PJU), langsung hilang, dicuri," kata Budi kepada Tempo Rabu, 6 Juni 2018.

    Budi merencanakan pengamanan fasilitas jalan dari tahap pembuatannya. "Saya akan ubah, vendor (penyuplai fasilitas) harus bisa masuk ke camat atau tokoh setempat untuk bantu amankan. Harus ada empati pada barang milik negara,” kata dia.

    Baca: Mudik 2018: Kemacetan Mengintai Tol Jakarta-Cikampek

    Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basoeki Hadimoeljono mengatakan jalur Pantai Utara (Pantura) sudah lebih dulu diprioritaskan dalam hal perbaikan fasilitas. Selain penerangan, marka jalan akan didesain khusus untuk membedakan jalur kecil dan jalur utama, seperti jalan provinsi.

    "Pantura sudah berubah markanya, memang harus dicerewetin agar begitu. Nah, mungkin akan sampai ke (lintas) selatan juga," ujar Basuki, Rabu, 6 Juni 2018.

    Menurut Basuki, balai cabang Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perhubungan sudah berkoordinasi mengenai pemeliharaan fasilitas jalan, tak terkecuali untuk persiapan mudik 2018. Pemerintah sudah merencanakan preservasi jalan sepanjang total 517 ribu meter untuk tahun depan.

    Proyek serupa sempat dikerjakan pada Maret lalu dengan skema pembiayaan kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU). Sejumlah proyek yang digarap di antaranya jalan nasional di Provinsi Riau sepanjang 43 km yang menjadi bagian dari Jalan Lintas Timur Sumatera. "Untuk 2019, nanti pemeliharaan jalan itu termasuk untuk jembatan juga," ujar Basuki.

    Juru bicara Kementerian Pekerjaan Umum, Endra Saleh Atmawidjaja, mengimbau pemudik tak hanya memilih jalan tol untuk perjalanan. "Jalan tol bukan satu-satunya jalur mudik 2018. Pemudik dari utara yang menuju selatan bisa menggunakan berbagai jalur arteri," kata dia.

    YOHANES PASKALIS PAE DALE | WAWAN PRIYANTO | DIAS PRASONGKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.