AISI Beberkan Tiga Tantangan Setelah Penjualan Sepeda Motor Naik

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Konsumen sedang melihat-lihat sepeda motor di Jakarta Fair 2018. 27 Mei 2018. TEMPO/Wawan Priyanto.

    Konsumen sedang melihat-lihat sepeda motor di Jakarta Fair 2018. 27 Mei 2018. TEMPO/Wawan Priyanto.

    TEMPO.CO, Jakarta - Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia mencatat penjualan sepeda motor ke dealer kendaraan roda dua lebih besar 11,19 persen sepanjang enam bulan pertama tahun ini dibandingkan dengan distribusi pada Januari—Juni 2017.

    AISI mencatat, distribusi kendaraan roda dua sebanyak 3 juta unit pada Januari—Juni 2018 atau lebih tinggi 302.207 unit dibandingkan dengan distribusi pada periode yang sama tahun lalu, yakni 2,7 juta unit.

    Honda, Kawasaki, dan Yamaha merupakan merek kendaraan yang mampu mencatatkan distribusi positif dari Januari sampai Juni 2018. Suzuki dan TVS tercatat melakukan distribusi lebih rendah pada periode yang sama, yakni Januari—Juni 2018 dibandingkan Januari—Juni 2017.

    Sigit Kumala, Ketua Bidang Komersial AISI, mengungkapkan, peningkatan distribusi kendaraan roda dua pada semester pertama tahun ini tidak terlepas dari peningkatan daya beli masyarakat dari Januari sampai Juni 2018.

    Baca: Penjualan Sepeda Motor Mei 2018: Honda Dominan, Yamaha Melejit

    Peningkatan daya saing masyarakat selama semester pertama dapat terjadi lantaran sektor formal dan informal mengalami perbaikan pada Januari—Juni 2018 seperti harga komoditas yang stabil, hasil panen yang tidak mundur jauh, serta pembangunan infrastruktur.

    “Membaik karena sekor formal dan informal bagus. Banyak pembangunan infrastruktur yang lagi dikerjakan, termasuk airport di Jawa Barat dan Jawa Tengah,” kata Sigit kepada Bisnis, Minggu, 8 Juli 2018.

    Pertumbuhan distribusi semester pertama tahun ini akan mengalami tantangan pada semester kedua tahun ini lantaran terdapat beberapa faktor seperti perang dagang antara Amerika Serikat dengan Cina, pelemahan nilai mata uang, dan kenaikan suku bunga.

    Pertama, perang dagang antara Paman Sam dan Negeri Panda dapat berpengaruh terhadap kondisi bisnis di dalam negeri yang berujung pada perekonomian dan daya beli masyarakat.

    “Kita perlu was-was sejauh mana dampak perang dagang, ini kan kalau sampai dampaknya luas akan berpengaruh terhadap bisnis, enggak hanya bisnis sepeda motor,” katanya.

    Simak: AISI: Pembatasan Sepeda Motor Tak Berimbas ke Penjualan

    Kedua, peningkatan suku bunga acuan Bank Indonesia dapat membuat peningkatan bunga kredit kendaraan bermotor.

    Ketiga, pelemahan nilai mata uang rupiah terhadap mata uang Amerika Serikat.

    Pelemahan nilai mata uang rupiah dapat membuat komponen dasar pada produksi kendaraan roda dua yang masih diimpor menjadi lebih mahal. Para pelaku usaha sepeda motor akan menaikkan harga jika supplier memutuskan untuk menaikkan harga akibat pelemahan rupiah.

    Asosiasi belum bisa memprediksi pertumbuhan persentase penjualan sepeda motor pada semester kedua tahu ini dengan kondisi-kondisi tersebut.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.