Alasan Perlunya Menengok ke Belakang Saat Akan Mengendarai Motor

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kompetisi Safety Riding AHM di Safety Riding Center di Pekanbaru, Riau, Kamis 19 Juli 2018. TEMPO/Eko Ari Wibowo

    Kompetisi Safety Riding AHM di Safety Riding Center di Pekanbaru, Riau, Kamis 19 Juli 2018. TEMPO/Eko Ari Wibowo

    TEMPO.CO, Jakarta - Dalam kompetisi safety riding yang dilakukan PT Astra Honda Motor setiap peserta memulai mengendarai motornya dengan menengok ke belakang. Senior Manager Safety Riding and Motorsport AHM Anggono Iriawan buka suara bahwa spion tidak cukup untuk mengetahui adanya pergerakan kendaraan lain. Ada blind spot saat mengandalkan spion motor. "Perlu dipastikan dengan melihat ke belakang," kata Anggono berbagi tips, Kamis 19 Juli 2018.

    Baca: Korlantas Polri: Rambu Kecepatan Bisa Kurangi Angka Kecelakaan

    Ia menjelaskan dalam balapan pun ketika pembalap keluar dari pit wajib melihat ke belakang. Padahal, kata dia, laju motor di dalam pit hanya satu arah. "Itu hanya satu arah saja harus menengok ke belakang," ujarnya.

    Tak hanya itu, pengendara kalau berhenti wajib menggunakan kaki kiri untuk menjadi penyokong motor dan badan. Jika menggunakan kaki kanan maka memiiki resiko bisa disenggol kendaraan lain. "Kalau dalam kompetisi safety riding bisa kena penalti 500 poin," ujarnya.

    Baca: Kenaikan Harga Motor Honda Juga Menyasar Mogenya

    Tak hanya itu, dalam kompetisi safety riding juga mengedukasi peserta untuk menggunakan lengan panjang seperti jaket, celana panjang dan sepatu. Bahkan, kata dia, untuk keseharian perlunya menggunakan pakaian dan apparel yang tertutup selain helm. "Bukan sekedar agar tidak masuk angin, tapi memberikan perlindungan yang memadai. Coba bayangkan ketika mengendarai motor pakai sandal terantuk batu bisa menggangu konsentrasi dan bisa berbahaya," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.