Daihatsu Andalkan Gran Max di Pasar Ekspor, Ini Targetnya

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Daihatsu Gran Max Moko (mobil toko) di festival Botram 2017, Bandung, 18 September 2017. Dok. Daihatsu.

    Daihatsu Gran Max Moko (mobil toko) di festival Botram 2017, Bandung, 18 September 2017. Dok. Daihatsu.

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Astra Daihatsu Motor (ADM) tidak memasang target ekspor muluk-muluk pada tahun ini. Hal ini lantaran kondisi ekonomi dunia dinilainya masih belum benar-benar pulih.

    Amelia Tjandra, Marketing Director PT Astra Daihatsu Motor (ADM), mengungkapkan pihaknya tidak memasang target terlalu muluk hingga penghujung tahun ini. Perusahaan, lanjutnya berharap kinerja pengapalan Daihatsu di akhir tahun sama dengan pencapaian akhir tahun lalu.

    Baca: Januari-Juli 2018 Penjualan Daihatsu Terios Naik 2 Kali Lipat

    Menurutnya, perusahaan tidak memasang target yang tinggi lantaran kondisi ekonomi dunia masih belum benar-benar pulih. Oleh karena itu, perusahaan tidak banyak berharap.

    “Target ekspor tidak muluk-muluk, seperti tahun lalu saja sudah senang,” katanya, Kamis 20 September 2018.

    Sepanjang tahun lalu, ADM mengekspor Gran Max sebanyak 476 unit. Meski menargetkan pengapalan dalam jumlah yang sama, sepanjang Januari-Agustus ADM berhasil mengekspor model yang sama sebanyak 627 unit.

    Baca: Daihatsu Luncurkan Pelumas Mesin, Simak Keunggulannya

    Kendati ADM tidak banyak mengekspor, sejumlah model kendaraan bermotor mobil yang diproduksi oleh ADM banyak yang masuk pasar luar negeri melalui PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), seperti Avanza, Rush, Agya, dan Town Ace/Town Lite.

    Berdasarkan data Bisnis, ekspor mobil buatan ADM sepanjang Januari-Juni 2018 yang diekspor melalui TMMIN tercatat mencapai 47.881 unit.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.