Jumat, 19 Oktober 2018

Penyebab Yamaha Mampu Bertahan Hadapi Naiknya Nilai Tukar Dolar

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Yamaha Indonesia Motor Manufacturing meluncurkan Yamaha R25 dan R3 di Jakarta, 11 Oktober 2018.

    Yamaha Indonesia Motor Manufacturing meluncurkan Yamaha R25 dan R3 di Jakarta, 11 Oktober 2018.

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) hingga saat ini masih belum menaikan harga produknya meski nilai tukar dolar Amerika Serikat telah menembus di angka Rp 15 ribuan. Vice President Director Yamaha Indonesia, Dyonisius Beti, mengatakan pihaknya bertahan tidak menaikkan harga jual hingga akhir tahun 2018 berkat kinerja ekspor yang bisa memberikan subsidi silang terhadap produk yang dijual di dalam negeri.

    Baca: Mesin Masih Sama, Yamaha R25 2019 Lebih Kencang 8 KM/Jam

    "Masih harga sama. Bertahan sampai sekuatnya, mungkin sampai tahun ini. Kita lihat nanti," kata Dyonisius Beti seusai peluncuran Yamaha R25 dan R3 di Kemayoran, Jakarta, Kamis 11 Oktober 2018. "Kami beruntung punya banyak ekspor jadi bisa saling subsidi silang. Kami bisa imbangi dengan ekspor," kata dia.

    Dyonisius menjelaskan, ekspor Yamaha dalam bentuk utuh (CBU) ditargetkan mencapai 400 ribu unit pada 2018. Sedangkan ekspor terurai (CKD-set) ditaksir mencapai 4,5 juta unit dari berbagai model. "Modelnya campur-campur ya, antara NMax, Xmax, Jupiter MX King, Mio dan R25," katanya.

    Baca: Yamaha Niken dengan Bermesin YZF-R3 Sedang Digodok

    Lebih lanjut, ia menyatakan tidak ingin menaikkan harga karena akan berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. "Daya beli akan terpengaruh kalau naikkan harga. Jadi kami akan serap dulu (pelemahan rupiah terhadap dolar AS)," kata Dyon.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Bravo 5 dan Cakra 19, Dua Tim Luhut untuk Jokowi di Pilpres 2019

    Menyandang nama Tim Bravo 5 dan Cakra 19, dua gugus purnawirawan Jenderal TNI menjadi tim bayangan pemenangan Jokowi - Ma'ruf Amin di Pilpres 2019.