Mobil Esemka Tegaskan Tidak Ada Fasilitas dari Pemerintah

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana aktivitas di pabrik PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka) di wilayah Desa Demangan, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali, pada Selasa, 23 Oktober 2018. TEMPO/Dinda Leo Listy

    Suasana aktivitas di pabrik PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka) di wilayah Desa Demangan, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali, pada Selasa, 23 Oktober 2018. TEMPO/Dinda Leo Listy

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Solo Manufaktur Kreasi atau PT SMK menegaskan tidak pernah mendapatkan perlakuan khusus atau bantuan dari pemerintah. PT SMK sebagai pembuat Mobil Esemka menjalani semua proses seperti halnya produsen otomotif lainnya. "PT SMK selama melakukan kegiatan usahanya sama sekali tidak mendapatkan fasilitas, dana, bantuan, insentif dan kemudahan dalam bentuk apapun dari pemerintah. Semua kegiatan operasional dijalankan sesuai prosedur dan peraturan berlaku," dalam keterangan resmi dari PT Solo Manufaktur Kreasi, Selasa 30 Oktober 2018.

    Perusahaan tersebut juga memastikan bahwa mobil Esemka adalah produksi nasional atau dalam negeri. Pembuatan mobil Esemka mengandalkan fasilitas atau pabrik mobil Esemka di Jalan Sambi Mangu KM 3, Boyolali, Jawa Tengah.

    Baca: Mobil Esemka Gunakan Komponen dari Cina

    Selama ini, mobil Esemka memang mendapat dukungan dari Joko Widodo atau Jokowi sejak menjabat Wali Kota Solo. Dukungan moral dari Jokowi diberikan untuk membangkitkan industri otomotif nasional setelah masa mobil Timor habis. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo, melalui akun Twitter resminya, menyatakan tak ada sangkut-paut pemerintah dalam produksi mobil Esemka. Produksi mobil yang pernah jadi kendaraan dinasnya waktu menjabat Wali Kota Solo, Jawa Tengah, tersebut murni diserahkan ke proses bisnis industri. “Bukan Presiden yang buat pabrik dan bikin mobil Esemka,” ucapnya.

    Ratusan mobil Esemka jenis pikap yang diparkir di halaman sisi timur pabrik PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) di Desa Demangan, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali, pada Selasa, 23 Oktober 2018. Mobil Esemka jenis pikap ini jumlahnya makin bertambah jika dibanding pada awal Oktober lalu. TEMPO/Dinda Leo Listy

    Kementerian Perhubungan pun menjamin pemerintah tak memberi kemudahan prosedur kepada produsen mobil Esemka, PT Solo Manufaktur Kreasi. Perseroan diwajibkan memenuhi semua prosedur kelayakan dari awal untuk mendapatkan sertifikat aman sesuai dengan peruntukan, seperti mobil penumpang dan mobil muatan barang. “Esemka kan juga pernah gagal uji coba,” kata Kepala Balai Pengujian Laik Jalan dan Sertifikasi Kendaraan Bermotor, Caroline Noorida Aryani, seperti diwartakan Koran Tempo edisi Sabtu, 27 Oktober 2018.

    Menurut dia, Kementerian sangat ketat meloloskan kepatutan sebuah kendaraan untuk diproduksi massal. Sebab, diperlukan jaminan keselamatan bagi pengendara dan penumpang. Merek terkenal dari luar negeri sekalipun banyak yang harus remedial untuk mendapat sertifikasi layak kendaraan dasar sebelum mendapatkan sertifikat uji tipe (SUT).

    Baca: 2 Sosok Mobil Esemka Pikap, Tampilan Depan Berubah dan Bak Luas

    Berdasarkan catatan Kementerian Perhubungan, mobil Esemka sudah berkali-kali gagal lolos uji emisi. Kegagalan pertama terjadi pada 2010. Dua tahun berselang, Esemka kembali gagal mendapat sertifikasi layak polusi. Empat varian mobil Esemka berbahan bakar bensin yang sudah lulus sertifikasi Euro 3 diwajibkan memenuhi standar Euro 4 yang baru dikeluarkan bulan ini.

    Berbagai tes di Kementerian akan menjadi akses bagi Kementerian Perindustrian untuk meloloskan Esemka ke tingkat produksi. Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, mengatakan empat dari delapan kendaraan yang belum lulus emisi tak akan mendapatkan izin produksi massal sampai dapat lampu hijau dari Kementerian Perhubungan. “Kalau tidak lolos sertifikat, ya, tidak akan boleh diproduksi,” ujarnya.

    Mobil pikap terparkir di halaman pabrik mobil Esemka di Sambi, Boyolali, Jawa Tengah, Senin, 22 Oktober 2018. Mobil Esemka digadang-gadang sebagai calon mobil nasional. ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho

    Proses produksi massal Esemka dalam dua tahun terakhir terbilang moncer setelah perusahaan yang dipimpin bekas Kepala Badan Intelijen Negara, Abdullah Mahmud Hendropriyono, PT Adiperkasa Citra Lestari, bekerja sama dengan PT Solo Manufaktur Kreasi. Perkawinan dua entitas tersebut melahirkan PT Adiperkasa Citra Esemka Hero (ACEH) untuk mendirikan pabrik di Boyolali, Jawa Tengah.

    Baca: Wali Kota Solo Sebut 2 Part Ini Belum Dibuat Pabrik Mobil Esemka

    Guna memperkuat basis produksi, ACEH mengajak Direktur Geely Mobil Indonesia pada saat itu, Hosea Sanjaya, membuat basis produksi pendukung seluas 35 hektare di Cileungsi, Jawa Barat. Hosea, yang menjadi Managing Director ACEH, ini tak memberi respons ketika dihubungi Tempo, Jumat, 26 Oktober 2018, ihwal perkembangan rencana produksi massal Esemka.

    Adapun Hendropriyono, meski baru mengunjungi pabrik di Boyolali, mengaku sudah tak terlibat dengan Esemka. “Sekarang mereka masih berfokus menyelesaikan pembangunan pabrik,” ujarnya. Soal kaitan dengan PT Adiperkasa Citra Esemka Hero, PT SMK menegaskan tidak memiliki hubungan dengan Mobil Esemka dan PT SMK.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.