Kisah Susahnya Hyundai Menembus Pasar Mobil Korea Utara

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana di pabrik perakitan Hyundai di Ulsan, Korea Selatan (22/10). Produsen mobil terbesar Korea Selatan itu dilaporkan meraih keuntungan kwartal yang lebih baik daripada perkiraan. REUTERS/Hyundai Motor/Handout

    Suasana di pabrik perakitan Hyundai di Ulsan, Korea Selatan (22/10). Produsen mobil terbesar Korea Selatan itu dilaporkan meraih keuntungan kwartal yang lebih baik daripada perkiraan. REUTERS/Hyundai Motor/Handout

    TEMPO.CO, Seoul - Pabrikan mobil Korea Selatan, Hyundai, kembali menggarap pasar otomotif di Korea Utara. Pada 2003, beberapa bulan sebelum Hyundai membuka kompleks industri di Korea Utara, pemimpin di balik proyek itu ditemukan bunuh diri di tengah-tengah tuduhan bahwa perusahaan melakukan pembayaran rahasia US$ 500 juta ke Korea Utara, seperti dilansir Reuters, Sabtu, 3 November 2018.

    Baca: Penjualan Sedan Hyundai Accent 2018 Nol, Ini Penjelasan Bos HMI

    Lima tahun kemudian, sebuah kompleks yang dikelola Hyundai di Korea Utara ditutup setelah seorang tentara Korea Utara menembak turis asal Korea Selatan. Kedua proyek itu telah lama ditutup, melambangkan betapa susahnya bagi perusahaan Korea Selatan untuk memulai roda bisnis di balik tembok pembatas di antara kedua negara bersaudara itu.

    Namun, dengan diperkuat cairnya hubungan di Semenanjung Korea dan iming-iming tenaga kerja terjangkau dan banyak daerah yang belum tersentuh pembangunan, Hyundai menyatakan akan kembali menjajaki bisnis ke Korea Utara.

    Eksekutif dan investor Hyundai, didorong perjanjian Seoul dan Pyongyang, ingin membuka kembali kompleks industri Kaesong dan Kumgang sebagai bagian dari pemanasan dalam hubungan kedua negara. Mereka meyakini Hyundai akan memperoleh manfaat atas upaya perdamaian di Semenanjung Korea.

    "Kami menginvestasikan dalam jumlah banyak untuk waktu yang lama, serta memiliki jaringan dan hak bisnis yang kuat dan luas di sana," kata Baek Cheon-ho, eksekutif senior di Hyundai Asan, anak perusahaan yang mengelola Kaesong dan Kumgang. "Menggabungkan semua itu, Hyundai akan menjadi lebih baik di Korea Utara."

    Perusahaan Korea Selatan yang berusaha memenuhi upah tenaga kerja yang tinggi bisa melirik Korea Utara karena standar upah lebih murah, serta potensi pertumbuhan besar yang tidak boleh dilewatkan, seperti dijelaskan Baek dan beberapa eksekutif kepada Reuters.

    Baca: Kia dan Hyundai Kembangkan Teknologi Robot Industri

    Sebagai informasi, Chung Ju-yung, pendiri Hyundai, merupakan pria kelahiran Tongchon, Korea Utara. Jadi upaya perusahaan melebarkan sayap ke negara tetangga itu bukanlah sekadar bisnis, tapi juga merangkai kembali sejarah perusahaan. "Kami melakukan ini tidak hanya untuk Hyundai, tapi untuk kebaikan yang lebih besar dari semua perusahaan Korea Selatan," ujar Baek.

    "Jika kami memulai kembali bisnis di Korea Utara, akan ada banyak pekerjaan baru untuk kami, juga untuk sejumlah perusahaan lain yang bekerja dengan kami," ucapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarik Ulur Vaksin Nusantara Antara DPR dan BPOM

    Pada Rabu, 14 April 2020, sejumlah anggota DPR disuntik Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto