Minggu, 16 Desember 2018

Turing Pakai New Honda CBR150R ABS: Masih Nyaman, Rem Tambah Ciet

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Turing Honda Bikers Day dengan melibatkan sejumlah petinggi Astra Honda Motor dan jurnalis menuju Pangandaran Sabtu 17 November 2018. Dok AHM

    Turing Honda Bikers Day dengan melibatkan sejumlah petinggi Astra Honda Motor dan jurnalis menuju Pangandaran Sabtu 17 November 2018. Dok AHM

    TEMPO.CO, Jakarta - Berkembangnya pasar matik bongsor telah menggerus penjualan motor sport terutama model fairing 150cc. Hal tersebut diakui Direktur Marketing PT Astra Honda Motor Thomas Wijaya. Menurutnya, pasar motor sport telah tergerus 1-2 persen.

    Pasar motor matik terus mengalami kenaikan karena kebutuhan masyarakat menginginkan kenyamanan. Matik bongsor memiliki kelebihan dengan adanya kenyamanan jok yang lebar dan posisi duduk santai. Kemacetan di kota-kota besar termasuk Ibu Kota Jakarta menjadi salah satu alasan motor matik laris. Kontras dari kondisi tersebut, motorsport fairing memberikan posisi duduk ala balap dan adanya perangkat kopling yang membuat berkendara lebih cepat lelah saat di kemacetan.

    Baca: Mau Balap Superbike? Simak Harga Seken Honda CBR1000RR Spek WSBK

    Menghadapi kondisi ini, Thomas Wijaya mengatakan AHM memiliki strategi khusus agar motor sport fairing 150cc tetap memiliki pasar. Ia menyebut produsen sepeda motor terbesar di Indonesia ini membekali motor sport dengan fitur-fitur terkini. AHM pun mendadani Honda CBR150R bisa menarik minat konsumen seperti, penggunaan desain fairing depan baru, piringan cakram dengan model wave, desain velg baru lebih sporty dan tampilan digital panelmeter yang kini menggunakan display negatif.

    Tak berhenti di situ, AHM menyematkan teknologi Antilock Brake System dual channel pada motor yang kini masih menguasai pasar motor sport fairing. Tak sekadar gimmick, ABS akan menjamin keamanan dan kenyamanan pengendara saat melakukan pengereman. Pada ABS yang dipasang di Honda CBR150R ini ada penambahan fitur baru Emergency Stop Signal (ESS). Perangkat ini akan menunjang keselamatan pada saat pengereman mendadak. ESS secara otomatis akan mengaktifkan lampu hazard saat rem dioperasikan, sehingga dapat memberikan peringatan ke pengendara di sekitarnya terutama pada posisi di belakang kendaraan untuk menghindari kemungkinan kecelakaan.

    Tempo sempat menjajal Honda CBR150R terbaru saat pelaksanaan touring Honda Bikers Day. Pada perjalanan kali ini, Tempo bersama sejumlah jurnalis lainnya menempuh perjalanan sejauh 170 kilometer. Rutenya dimulai dari Jalan Yudanegara, Tasikmalaya melewati Sukaraja dengan kondisi jalan yang berliku dengan kombinasi kontur jalan menurun dan menanjak khas jalur selatan Pulau Jawa. Berlanjut ke Cibalong dengan rute yang berada di antara lembah dan tebing. Rombongan juga melewati jalur yang cukup ramai di wilayah Karangnunggal. Selama kurang lebih 2 jam melintas jalur Tasikmalaya – Cipatujah hingga ke Pangandaran.

    Seperti kodratnya sebagai motor sport fairing, posisi berkendara terasa sangat sporty alias menunduk dengan posisi footpeg lebih ke belakang. Hanya saja, motor andalan Honda ini masih lebih relaks dibandingkan kompetitor seperti Suzuki GSX-R150 dan Yamaha YZF-R15 karena tertolong penggunaan stang dengan posisi di atas Yoke atau segitiga atas. Dengan tinggi badan 160 sentimeter, Tempo agak sedikit jinjit namun masih mudah mengendalikan motor.

    Pada bagian kokpit atau instrumen kini tampil lebih fresh dengan ada negative display yang kini menjadi tren di motor-motor keluaran terbaru. Instumen tersebut menampilkan semua petunjuk mulai dari kecepatan, jarak, jam hingga posisi gear. Visor pun kini lebih tinggi sehingga angin tak langsung mengenai pengendara. Pada bagian suspensi depan, ada semacam ulir preload untuk mengatur kelembutan dan kekerasan suspensi. Tak hanya bagian depan, suspensi belakang pun memiliki fitur pengaturan preload.

    Baca: Honda PCX Jelajahi 4 Pulau dengan Jarak 1.400 KM

    Ketika melewati jalan berkelok dan bumpy, Tempo merasakan suspensi ini cukup stabil meski tanpa mengubah pengaturan preload yang ada di motor. Hal ini ditunjang dengan berat badan hanya 49 kilogram sehingga tidak perlu pengaturan, mungkin dengan badan yang lebih berat adanya preload akan lebih memberikan kenyamanan. Ban depan dan belakang pun tak sampai goyang dombret dan masih bisa dikendalikan meski jalurnya kelak-kelok. Masuk dan keluar tikungan pun tetap nurut. Ada beberapa rekan yang nyaris slip karena kurang konsentrasi.

    Pengereman dengan ABS pun memberikan jaminan kestabilan. Sigit, salah satu peserta touring mengakui ABS memberikan performa yang mumpuni untuk jalan mulus maupun bergelombang, apalagi dengan medan cilukba. Dalam kondisi jalur yang padat dan pengereman mendadak fitur ABS memberikan bantuan sehingga rem tidak mengakibatkan ban terkunci. Tempo yang menggunakan CBR150R non ABS performanya masih cukup mumpuni meski tanpa perangkat itu. "Ada getaran di handel rem, seperti pada mobil yang ada ABS," kata Sigit.

    Hanya saja penggunaan perangkat ABS pada motorsport 150cc ini telah mengerek banderol Rp 4juta. Pada model Honda CBR150R pada varian standar dijual Rp 33,8 juta sedangkan pada varian ABS dibanderol Rp 37,8 juta.

    Soal performa, Mesin 150cc DOHC-6 kecepatan, 4-valve, berpendingin cairan dengan jalur di jalur pegunungan masih memadai. Mesin ini mampu menghasilkan tenaga 12,6 kW (17,1 PS) pada 9.000 rpm dan torsi 14,4 Nm pada 7.000 rpm yang membuat pengendara nyaman bermanuver di jalanan. Hanya saja, pada lintasan lurus mesin ini memang masih kalah dari kompetitor Yamaha YZF-R15 mampu menghasilkan tenaga 19,3 PS dan Suzuki GSX-R150 sekitar 19,1 PS. Keuntungan dari Honda CBR150R dengan mesin overstoke mampu menyuguhkan efisiensi dalam pemakaian bahan bakar seperti klaim AHM yang mencapai 39,72 km/liter. Hingga akhir perjalanan, bensin masih lebih dari setengah tangki.

    Baca: Honda CBR250RR Pemenang HMC Motif Ukiran, Biaya Modif Rp 60Juta

    Tempo merasakan tenaga motor ini cukup memadai maklum di lintasan berkelok tak dibutuhkan tenaga besar namun torsi yang besar karena posisi gear hanya main 1-4 saja. Mesin CBR cukup halus hanya saja perpindahan gear agak keras dan sedikit mengganggu konsentrasi. Karakter mesin overstoke memiliki nafas yang pendek ketika menghadapi lintasan yang panjang kurang bisa menikmati sensasi. Kondisi berbeda dengan Suzuki GSX-R150 yang memiliki nafas yang lebih panjang sehingga kecepatan puncak yang diraih pun bisa lebih tinggi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Serunya Adu Cuit Pendukung Jokowi Versus Prabowo di Jagat Twitter

    Di Twitter, perang cuit antara pendukung Jokowi - Ma'ruf Amin dengan Prabowo - Sandiaga tak kalah seru dengan "perat darat".