Pabrik Baterai Mobil Listrik Segera Dibangun di Morowali

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang karyawan memilah baterai lama untuk diekstraksi di sebuah pabrik penambangan perkotaan di Gunsan, Korea Selatan, 2 April 2018. Perusahaan SungEel HiTech melakukan daur ulang baterai untuk digunakan pada baterai yang menggerakkan mobil listrik. REUTERS/Kim Hong-Ji

    Seorang karyawan memilah baterai lama untuk diekstraksi di sebuah pabrik penambangan perkotaan di Gunsan, Korea Selatan, 2 April 2018. Perusahaan SungEel HiTech melakukan daur ulang baterai untuk digunakan pada baterai yang menggerakkan mobil listrik. REUTERS/Kim Hong-Ji

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan menyebutkan peletakan batu pertama atau ground breaking pembangunan baterai lithium untuk mobil listrik di Morowali akan dilakukan pada 11 Januari 2019.

    Luhut menyebutkan, total nilai investasi pembangunan baterai lithium di Morowali mencapai sekitar US$4,3 miliar, sementara investasi awal sebesar US$700 juta. Menurutnya, akan bermacam-macam baterai yang akan diproduksi di wilayah tersebut.

    “Lithium baterai total US$4,3 miliar. US$700 juta investasi awal, tapi mereka mau, karena macam-macam nanti baterainya,” kata Luhut di Jakarta, Kamis, 29 November 2018. 

    Baca: Menteri Airlangga Kasih Jempol untuk Mobil Listrik Blits

    Dalam persentasinya, nilai investasi senilai US$700 juta dilakukan oleh konsorsium GEM Co. Ltd. Sebesar 36 persen, Tsingshan Group 21 persen, CATL 25 persen, Hanwa 8 persen, dan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) 10 persen.

    Dia menjelaskan, investor yang akan menanamkan modalnya tidak hanya dari Cina. Tapi, beberapa negara lainnya seperti Jepang dan Korea Selatan juga akan diajak untuk menanamkan modalnya di dalam negeri.

    Menurutnya, negara tidak bergantung pada satu negara terkait dengan investasi baterai tersebut di dalam negeri. Indonesia diharapkan menjadi pemimpin terkait lithium baterai karena dunia mengarah ke baterai tersebut mengingat memiliki harga paling murah dan bagus.

    Saat ini, dia menuturkan, 60 persen—80 persen komponen baterai lithium berasal dari nikel, dan Indonesia memiliki cadangan nikel paling besar. Rencananya, pembangunan pabrik baterai yang mulai melakukan peletakan batu pertama pada Januari 2019 tersebut akan selesai dalam 2 tahun.

    Baca: Menteri Airlangga: Perpres Mobil Listrik Selesai Akhir Tahun Ini

    Pengembangan baterai listrik menjadi faktor utama keberhasilan pengembangan mobil listrik di dalam negeri. Dia menuturkan, pabrik baterai kendaraan listrik yang berdiri di Indonesia bisa menjadi pemasok kendaraan bermotor mobil listrik di dalam negeri.

    Menurutnya, baterai yang dipasok dari dalam negeri akan membuat harga kendaraan listrik di Indonesia menjadi lebih terjangkau dibandingkan dengan harus impor.

    Oleh karena itu, lanjutnya pihaknya memiliki wacana kendaraan sepeda motor yang dibeli dengan APBN atau APBD adalah produksi dalam negeri. Baterai yang digunakan untuk kendaraan bermotor roda dua tersebut dapat dipasok dari pabrik yang akan dibangun di Morowali.

    Keterlibatan APBN atau APBD, dia menuturkan dapat membuat industri terkait dengan kendaraan listrik di dalam negeri dapat berjalan, bahkan meluas. Kondisi tersebut, lanjutnya dapat membuat Indonesia bisa melakukan ekspor ke luar negeri.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.