Mengenal Bahan Baku Ban dengan Karet Sintetis dan Karet Natural

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ban Michelin Primacy 4 diluncurkan di Hotel Pullman, Jakarta Jumat 13 Juli 2018. TEMPO/Wisnu Andebar

    Ban Michelin Primacy 4 diluncurkan di Hotel Pullman, Jakarta Jumat 13 Juli 2018. TEMPO/Wisnu Andebar

    TEMPO.CO, Cilegon Michelin Group dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk baru saja meresmikan PT Synthetic Rubber Indonesia (SRI) sebagai produsen karet sintetis pada Kamis, 29 November 2018. Lalu apa perbedaan karet sintetis dan karet natural yang dipakai untuk bahan baku ban, dan apa kelebihannya?

     

    Public Affairs and Corporate Communications Director Michelin Indonesia, Nora Guitet mengatakan, antara karet sintetis dan karet natural itu memiliki kebutuhan yang berbeda, karet sintetis terbuat dari petrokimia dan karet natural dari pohon. Untuk ban mining atau ban truk menggunakan sedikit komposisi dari karet sintetis dan lebih banyak karet natural.

    Baca: Michelin - Chandra Asri Resmikan Pabrik Karet Sintetis di Cilegon

    "Komposisi tersebut fungsinya untuk lebih bagus dalam menahan beban," katanya di Cilegon pada Kamis, 29 November 2018.

    Sedangkan ban yang sifatnya untuk kecepatan seperti ban kendaraan roda dua atau mobil penumpang itu menggunakan komposisi antara karet natural dan karet sintetis yang persentasenya kurang lebih sama. Perbandingan bisa dari 35 hingga 50 persen. Namun tergantung kebutuhannya.

    Komposisi karet sintetis, menurut dia, lebih banyak berfungsi untuk meningkatkan kecepatan dan efisiensi bahan bakar hingga 25 persen.

    Baca: Pabrik SRI di Cilegon Klaim Maksimalkan Tenaga Kerja Lokal

    Itu berkat rolling resistance yang baik dari komposisi karet sintetis sehingga lebih hemat energi dan daya cengkram meningkat. Jadi fungsi keduanya berbeda antara karet natural dan karet sintetik tapi sama-sama dibutuhkan, hanya komposisinya saja yang berbeda.

    "Peran keduanya memiliki kelebihan masing-masing dan tidak saling menggantikan. Karet sintetik memang suatu produksi yang kami anggap penting untuk bahan baku ban," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.