Minggu, 16 Desember 2018

Becak Motor Sering Kena Tilang, Pengemudi Pindah ke Becak Listrik

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Prototipe Becak Listrik dari bengkel Mobilijo Yogya dibawa ke  DPRD DIY untuk dikenalkan sebagai pengganti becak motor dan kayuh di Yogya. Tempo/Pribadi Wicaksono

    Prototipe Becak Listrik dari bengkel Mobilijo Yogya dibawa ke DPRD DIY untuk dikenalkan sebagai pengganti becak motor dan kayuh di Yogya. Tempo/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Paguyuban Becak Motor DIY menyatakan bersedia untuk beralih meninggalkan becak motor mereka ke becak listrik. Hal ini mengemuka ketika para perwakilan pengemudi becak dipertemukan dengan Dinas Perhubungan serta DPRD DIY juga pembuat becak listrik dari bengkel Mobilijo Yogya di DPRD DIY Jumat 7 Desember 2018.

    Dalam pertemuan itu turut dikenalkan sebuah prototype becak listrik dari bengkel Mobilijo. “Pada dasarnya kami siap untuk beralih dari becak motor ke becak listrik,yang penting sesuai kemampuan kami,” ujar Ketua Paguyuban Becak Motor DIY Suparmin.

    Suparmin menuturkan, selama ini mengoperasikan becak motor memang membuat pengemudinya selalu was-was karena moda transportasi itu seolah jadi incaran tilang polisi.

    Baca: Prototype Becak Listrik Yogya Siap Gantikan Dominasi Becak Motor

    Becak motor ditinjau dari undang-undang lalu lintas yang berlaku tak termasuk dalam angkutan umum. Sehingga sering kucing-kucingan dengan kepolisian. “Kami menilai becak listrik ini jadi solusi yang bagus, karena ramah lingkungan, irit, dan tak melanggar aturan,” ujarnya.

    Suparmin menuturkan selama ini pengemudi becak kayuh di Yogya sebagian telah beramai-ramai beralih ke becak motor yang lebih praktis. Namun harus diakui dengan becak motor, meski pendapatan bisa lebih besar dengan layanan lebih cepat namun juga butuh perawatan dan bahan bakar minyak tak sedikit.

    Dalam satu hari yang ramai wisatawan, biasanya butuh satu sampai dua liter bensin untuk beroperasi di seputaran kota. Penghasilan bersih rata-rata sekitar Rp 50 sampai 150 ribu per hari. Namun jika terkena tilang, denda yang dikeluarkan bisa berkisar Rp 100-400 ribu tergantung jenis pelanggaran lalu lintasnya.  

    “Kami akan sosialisasikan becak listrik ini kepada anggota paguyuban agar satu komando,” ujarnya.

    Baca: Sepeda Listrik ala Harley Davidson Banjir Pesanan hingga Sumatera

    Ketua Dewan Penasehat dan Pelindung Paguyuban Pengemudi Becak DIY Brotoseno menuturkan total di DIY ada sekitar 5.500 pengemudi becak baik motor dan kayuh. Untuk becak motor sendiri pengemudinya ada sekitar 2000 an.

    Brotoseno menuturkan, dengan prototype becak listrik dari Mobilijo itu pihaknya berharap dari Pemerintah DIY turut membantu mensubsidi unit itu pada para pengemudi becak. Sebab harga satu becak listrik itu sendiri berkisar sekitar Rp 15-16 juta.

    “Pemda DIY bisa membantu melalui Dana Keistimewaan (Danais) dan perkiraannya butuh sekitar Rp 55 Miliar untuk membuat secara massal becak listrik ini bagi 5.500 pengemudi becak di DIY,” ujarnya.

    Dengan beralihnya becak kayuh dan motor itu ke becak listrik, ujar Brotoseno, maka moda becak tak lagi kalah bersaing dengan trasnportasi lain. “Tak ada lagi juga kasus pengemudi becak motor dikejar-kejar kepolisian karena dianggap melanggar,” ujarnya.

    Baca: Sepeda Listrik Bergaya Moge Asal Yogya Habiskan Dana Rp 25 Juta

    Menanggapi permintaan paguyuban becak itu, Wakil Ketua DPRD DIY Dharma Setiawan menyatakan akan membantu mengusulkan pengunaan dana keistimewaan untuk pengemudi becak. Namun menurut dia yang lebih penting saat ini adalah memperjelas definisi kendaraan dengan pengerak untuk angkutan umum.

    “Kami akan usulkan pembentukan panitia khusus (pansus) pengawasan terhadap masalah becak, andong, dan kendaraan dengan pengerak. Dari pengawasan ini kami bisa tetapkan definisnya dan menjadi dasar pembentukan peraturan daerahnya,” ujar Dharma.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Serunya Adu Cuit Pendukung Jokowi Versus Prabowo di Jagat Twitter

    Di Twitter, perang cuit antara pendukung Jokowi - Ma'ruf Amin dengan Prabowo - Sandiaga tak kalah seru dengan "perat darat".