Soal SDM, Warga Sekitar Pabrik Mobil Esemka Minta Diprioritaskan

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas karyawan atau pekerja magang di pabrik mobil Esemka di Boyolali. 20 Desember 2018. TEMPO/Dinda Leo Listy

    Aktivitas karyawan atau pekerja magang di pabrik mobil Esemka di Boyolali. 20 Desember 2018. TEMPO/Dinda Leo Listy

    TEMPO.CO, Boyolali - Meski PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK)---produsen mobil Esemka---belum diresmikan, pabriknya yang berada di wilayah Desa Demangan, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali, sudah mempekerjakan sejumlah karyawan atau pekerja magang sejak beberapa bulan lalu. 

    "Tapi mayoritas pekerja di pabrik PT SMK itu berasal dari luar Desa Demangan, bahkan dari luar Kabupaten Boyolali. Sedangkan warga Demangan yang melamar kerja di PT SMK sampai sekarang belum dipanggil," kata salah satu warga Desa Demangan saat ditemui Tempo pada Kamis, 20 November 2018.

     

    Lelaki paruh baya yang tidak bersedia menyebutkan namanya itu mengatakan, sekitar dua bulan lalu ada sejumlah pemuda di desanya yang mengirimkan surat lamaran kerja ke PT SMK. "Mereka baru lulus SMK, jurusannya teknik otomotif. Surat lamaran kerjanya diantarkan langsung ke PT SMK oleh salah satu perangkat desa. Tapi sampai hari ini belum juga ada panggilan untuk tes atau wawancara," kata dia.

    Baca: Pabrik Mobil Esemka Belum Juga Diresmikan, Begini Situasinya

     

    Warga tersebut memaklumi jika lamaran kerja sejumlah pemuda di desanya belum diproses lantaran PT SMK hingga saat ini juga tidak pernah membuka atau mengumumkan adanya lowongan. "Tapi kenapa justru orang dari luar Boyolali bisa kerja di situ. Lantas mereka masuknya lewat mana," kata warga itu.

     

    Kisah yang hampir sama disampaikan salah satu warga Desa Senting, Kecamatan Sambi, Boyolali. Desa Senting berbatasan langsung dengan pagar sisi timur PT SMK. "Saudara saya dari Purwodadi sudah pindah KK (Kartu Keluarga) jadi warga Desa Senting karena ikut istrinya tinggal di sini. Dua bulan lalu dia melamar kerja ke PT SMK, tapi sampai hari ini juga belum ada informasi apapun," kata perempuan paruh baya itu.

     

    Warga yang rumahnya hanya berjarak sekitar 20 meter dari PT SMK itu mengatakan, saudaranya itu juga lulusan SMK dan usianya baru 21 tahun. "Sekarang kerjanya masih serabutan. Ini rencananya mau mengirim surat lamaran kerja lagi ke PT SMK," kata dia. 

    Baca: 11 Tipe Mobil Esemka Lolos Uji, Pick Up Kemungkinan Diproduksi

     

    Meski PT SMK belum diresmikan dan belum membuka lowongan pekerjaan, perempuan itu berujar, banyak karyawan atau pekerja magang dari luar daerah yang sudah bekerja sejak beberapa bulan lalu. "Mustinya mereka merekrut warga terdekat dulu. Buat apa bikin pabrik di sini tapi karyawannya dari luar," ujar dia. 

     

    Menurut salah satu perangkat Desa Demangan, hingga kini belum ada informasi resmi dari PT SMK ihwal kapan perusahaan itu diresmikan. "Baru ada sekitar lima warga kami yang bekerja di PT SMK. Ada yang jadi satpam, ada juga yang di dalam. Kalau yang baru melamar belum ada yang dipanggil," kata perangkat yang juga tidak bersedia ditulis namanya itu.

    Soal persiapan pabrik mobil Esemka ini pernah diungkapkan mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) A.M. Hendropriyono kepada Koran Tempo, Kamis, 25 Oktober 2018. Ketika itu Hendropriyono mengaku sudah tidak lagi ikut mengelola mobil Esemka. Namun ia mengaku mengunjungi pabrik mobil Esemka pada 3 Oktober 2018. “Agar tahu apa keluhan mereka, apa rintangannya,” kata Hendropriyono kepada Tempo. “Sekarang 75 persen lebih pabrik sudah siap.”

    Baca: Mobil Esemka Gunakan Komponen dari Cina

    Menurut dia, produsen Esemka saat ini tengah berfokus menyelesaikan pembangunan pabrik. Pembangunan tahap I telah rampung. “Tahap II yang 25 persen,” kata Hendropriyono. “Baru kemudian berproduksi massal. Mereka hanya bilang ingin secepatnya,” seperti diberitakan Koran Tempo, Jumat, 26 Oktober 2018.  

    Rekrut Pekerja Magang

    PT SMK diketahui telah membuka rekruitmen bagi para lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dari jurusan otomotif pada Mei 2018. Pekerja magang diambil dari SMK di sekitar pabrik. 

    “Selain dari sekolah kami, ada juga dari beberapa SMK lain di Kabupaten Boyolali,” kata guru otomotif SMK Negeri 1 Sambi, Kabupaten Boyolali, Anwar Yasin, saat ditemui Tempo di ruang kerjanya pada Senin, 22 Oktober 2018.

    Baca: Pabrik Mobil Esemka Rekrut Lulusan SMK di Boyolali Sejak Mei 2018

    Yasin mengatakan, ada 40 alumnus SMK N 1 Sambi dari jurusan otomotif yang saat ini magang kerja di pabrik PT SMK yang berada di wilayah Desa Demangan, Kecamatan Sambi, Boyolali. Sebanyak 40 alumnus itu terdiri dari lulusan tahun 2017 dan 2018.

    “Terpilih 40 orang itu setelah melalui proses seleksi, bukan karena batasan kuota. Seleksinya sekitar Mei lalu. Semuanya alumnus. Kalau yang masih berstatus siswa tidak ada yang magang di sana,” kata Anwar tanpa menjelaskan secara detail ihwal  proses seleksi untuk magang kerja di PT SMK tersebut.

    Anwar berujar, para peserta magang kerja di PT SMK itu tentu akan mendapatkan honor yang layak meski dia tidak menyebutkan berapa nilainya. Anwar juga mengaku tidak tahu ihwal pekerjaan apa yang akan ditangani para mantan siswanya di pabrik yang berjarak sekitar lima kilometer dari Bandara Adi Soemarmo Solo itu.

    Baca: Jokowi Berjanji Resmikan Mobil Esemka Jika Produknya Terealisasi

    “Saya ke sana (PT SMK) hanya untuk proses simbolis, menyerahkan alumnus yang lolos seleksi. Apakah pabrik itu sudah mulai berproduksi, saya tidak tahu karena saya tidak masuk sampai ke dalam-dalam,” kata Anwar yang siang itu tampak tergesa karena hendak mengajar.

    Dari pantuan Tempo di pabrik PT SMK pada 3 Oktober lalu, tampak ada puluhan pemuda yang mengenakan seragam praktek kerja lapangan (PKL). Dari seragam tersebut, diketahui bahwa mereka berasal dari sejumlah SMK negeri maupun swasta di Boyolali dan Kota Solo. Ada pula sebagian yang mengenakan seragam PKL dari salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Solo.

    “Informasi yang kami dengar, mereka yang magang kerja itu dapat honor sesuai UMK (Upah Minimum Kabupaten) Boyolali sekitar Rp 1,5 juta. Kalau siang mereka makan di kantin sekitar pabrik mobil Esemka. Biaya makannya juga ditanggung perusahaan, mereka tinggal menukarkan kupon,” kata Ipung, 40 tahun, warga Desa Senting, Kecamatan Sambi, yang tinggal tidak jauh dari pabrik PT SMK.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.