Wuling Kucurkan Tambahan Investasi Rp 9 Triliun, Ini Alokasinya

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wuling Cortez dan Wuling Confero S di pameran GIIAS Medan, 31 Oktober 2018. (Wuling Motors)

    Wuling Cortez dan Wuling Confero S di pameran GIIAS Medan, 31 Oktober 2018. (Wuling Motors)

    TEMPO.CO, JakartaWuling Motors, produsen otomotif asal Cina akan menambah investasi di Indonesia sebesar Rp 9 triliun pada 2019 untuk mengembangkan sejumlah fasilitas pendukung usaha.

    "Iya, Wuling itu mau ekspansi Rp9 triliun. Jadi, dia mau serius mengembangkan usahanya di Indonesia, sehingga dia mau investasi," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Haris Munandari dihubungi di Jakarta, Rabu 26 Desember 2018.

    Baca: Wuling SUV Berbasis Baojun 530, Penjualan Moncer di Cina

    Haris memaparkan industri otomotif memiliki karakteristik tersendiri, sehingga perlu menjaga agar kepuasan dan kepercayaan pelanggan dapat terus terjaga.

    "Investasi di industri otomotif itu beda, sehingga tidak gampang orang masuk di situ. Jadi, dia harus maintain itu, misalnya kebutuhan aftersales, ketersediaan suku cadang, itu semua yang dapat menjaga trust," ujar Haris.

    Menurut Haris, ekspansi yang dilakukan Wuling akan digunakan untuk memperluas jaringan, memastikan ketersediaan suku cadang, hingga memperkuat teknologi untuk pusat riset dan pengembangannya atau Research and Development (R&D) Center.

    "Mereka harus menyesuaikan dengan pasar, sehingga perlu juga investasi di R&D selain aftersales. Jadi, investasinya di sini besar, dan memerlukan extra effort," pungkas Haris.

    Simak: Baojun 530 2019 Basis Wuling SUV Pakai CVT Terbaru Makin Halus

    Sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto menyebut industri otomotif menjadi andalan perekonomian di tengah tekanan dinamika perekonomian global. Hal ini tercermin dari sumbangsihnya kepada Produk Domestik Bruto (PDB) yang mencapai 10,16 persen pada tahun 2017 serta mampu menyerap tenaga kerja langsung sekitar 350 ribu orang dan tenaga kerja tidak langsung sebanyak 1,2 juta orang.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.