Mercedes-Benz Indonesia Sambut Positif DP Nol Persen Kendaraan

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • President dan CEO PT MBDI Reolof Lamberts. 13 Januari 2019. TEMPO/Wawan Priyanto

    President dan CEO PT MBDI Reolof Lamberts. 13 Januari 2019. TEMPO/Wawan Priyanto

    TEMPO.CO, Yogyakarta  - President & CEO PT Mercedes-Benz Distribution Indonesia (MBDI) Roelof Lamberts menyambut positif uang muka (down payment/DP) 0 persen kendaraan bermotor di Indonesia. Menurut Lamberts, uang muka 0 persen tersebut memberikan kesempatan kepada konsumen untuk membeli kendaraan dengan lebih mudah.

    "Saya rasa bagus. Hanya saja, leasing (perusahaan pembiayaan) mau mengambil atau tidak," kata Lamberts di sela-sela kegiatan test drive Mercedes-Benz Hungry for Adventure di Yogyakarta, 14 Januari 2019.

    Lamberts mengungkapkan bahwa uang muka 0 persen pasti akan membuat perusahaan pembiayaan lebih ketat dalam menyeleksi calon nasabah terkait dengan kredit kendaraan bermotor. "Seleksi ketat ini agar tidak muncul kredit macet di kemudian hari," ujarnya.

    Baca: Alasan Kawasaki Belum Terapkan DP Nol Persen Kredit Motor

    Di sisi konsumen, Ia menilai konsumen mobil premium seperti konsumen Mercedes-Benz memiliki management keuangan yang baik. "Bisa saja uang DP dialihkan untuk keperluan lain, untuk bisnis misalnya," tuturnya. "Tapi sekali lagi perusahaan pembiayaan pasti akan sangat hati-hati dalam menyeleksi calon nasabah."

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara resmi mengizinkan penurunan Down Payment (DP) atau uang muka terkait pembiayaan kendaraan bermotor baik mobil dan motor. Sebelumnya DP kendaraan paling kecil 5 persen menjadi 0 persen dari harga jual.

    Hal tersebut diatur dalam amandemen Peraturan OJK tentang perusahaan pembiayaan yang satu poinnya mengatur mengenai pembayaran uang muka pembiayaan kendaraan bermotor.

    Menanggapi hal itu, Senior Vice President Adira Finance, Ronald Donna, mengatakan bahwa mengenai DP 0 persen, aturan OJK sepertinya ada klausul mengenai tingkat potensi kredit macet bersih atau Net Credit Loss (NCL) suatu perusahaan finance.

    “Jadi kami pelajari juga terkait NCL tersebut,” ujarnya saat dihubungi Tempo pada Jumat, 11 januari 2019.

    Baca: Mercedes-AMG G 63 Dipasarkan di Indonesia Maret 2019, Harganya?

    Direktur Pemasaran dan Layanan Purna Jual PT Honda Prospect Motor (HPM) Jonfis Fandy menyampaikan bahwa prinsip kehati-hatian dalam memasarkan kendaraan melalui kredit harus tetap dikedepankan. Kepada Tempo, Jonfis mengaku masih akan mempelajari tentang ketentuan baru tersebut. “Kami akan mempelajarinya bersama dengan perusahaan pembiayaan, khususnya tentang apa yang dapat dilakukan dengan ketentuan baru tersebut,” kata Jonfis kepada Tempo, 11 Januari 2019. 

    Menurut Jonfis, DP nol persen pasti memiliki syarat dan ketentuan yang harus dipatuhi. “Misalnya, perusahaan pembiayaan harus sehat, demikian juga kondisi keuangan konsumennya,” ujarnya.

    Sementara itu, Executive General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM) Fransiscus Soerjopranoto mengatakan bahwa kebijakan tersebut dapat menggairahkan industri otomotif. “Pemerintah memberikan kesempatan kepada konsumen untuk memiliki kendaraan lebih mudah,” kata Soerjo kepada Tempo, Jumat, 11 Januari 2019. 

    Baca: Januari - November 2018 Penjualan Mobil Naik 7 Persen

    TAM sebagai pelaku industri, lanjut dia, berharap kebijakan tersebut dapat disikapi secara bijaksana dengan melakukan seleksi kepada calon komsumen dengan lebih teliti dan juga didukung oleh proses pemeriksaan yang kuat sehingga potensi kredit macet dapat dihindari. “Non Performing Loan (NPL) atau kredit bermasalah yang terjadi juga tidak akan besar. Karena NPL tinggi pasti akan menggangu industri,” ujarnya. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.