Menteri Airlangga Sebut Insentif Mobil Listrik Bea Masuk 0 Persen

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Presiden Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia Warih Andang Tjahjono mencoba Toyota Prius Plug-in Hybrid Electric Vehicle di Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Rabu, 4 Juli 2018. TEMPO/Wawan Priyanto

    Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Presiden Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia Warih Andang Tjahjono mencoba Toyota Prius Plug-in Hybrid Electric Vehicle di Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Rabu, 4 Juli 2018. TEMPO/Wawan Priyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah berupaya mempercepat penyelesaian penyusunan peraturan presiden mengenai kendaraan listrik atau mobil listrik. Untuk mengakselerasi pengembangan kendaraan listrik, pemerintah akan menyiapkan fasilitas insentif fiskal dan infrastruktur.

    Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan penyusunan perpres sebagai payung hukum sedang diformulasikan terutama mengenai persyaratan yang akan menggunakan fasilitas insentif. Dalam implementasinya nanti, pada tahap awal diberlakukan dengan bea masuk nol persen dan penurunan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk kendaraan bermotor listrik.

    Baca: Jokowi Janjikan Perpres Kendaraan Listrik Segera Terbit

    “Mengenai fasilitas fiskal, kami sudah berkoordinasi dengan Menteri Keuangan. Setelah disepakati dan sesuai arahan ratas, selanjutnya dikoordinasikan dengan Menko Perekonomian dan Kemaritiman untuk persiapan Perpresnya. Kemudian, Menteri Keuangan akan berkonsultasi dengan Komisi XI DPR,” ujarnya.

    Airlangga mengemukakan hal itu seusai mengikuti Rapat Terbatas (Ratas) tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik di Kantor Presiden, Jakarta, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Bisnis.com pada Selasa 15 Januari 2019.

    Menperin menuturkan pengembangan kendaraan listrik akan dapat mengurangi ketergantungan pada pemakaian BBM serta mengurangi ketergantungan pada impor BBM. Hal ini berpotensi menghemat devisa sekitar Rp789 triliun.

    Baca: Jokowi Ingin Indonesia Jadi Pemain Utama Mobil Listrik

    Kementerian Perindustrian, kata Airlangga, telah menyusun peta jalan untuk pengembangan industri otomotif nasional. Salah satu fokusnya adalah memacu produksi kendaraan emisi karbon rendah atau low carbon emission vehicle (LCEV) termasuk di dalamnya kendaraan listrik. “Targetnya, pada 2025 populasi mobil listrik diperkirakan tembus 20 persen atau sekitar 400.000 unit dari 2 juta mobil yang diproduksi di dalam negeri,” katanya.

    Di samping itu, pada 2025, juga dibidik sebanyak 2 juta unit untuk populasi motor listrik. “Jadi, langkah strategis sudah disiapkan secara bertahap, sehingga kita bisa melompat untuk menuju produksi mobil atau sepeda motor listrik yang berdaya saing di pasar domestik maupun ekspor,” tuturnya.

    Baca: Alasan Hyundai Pilih Indonesia Bangun Pabrik Mobil Listrik

    Airlangga menilai salah satu kunci pengembangan kendaraan listrik berada pada teknologi baterai. Indonesia mempunyai sumber bahan baku untuk pembuatan komponen baterai, seperti dari nikel laterit yang merupakan material energi baru.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.