Petualangan Seru Yogyakarta-Semarang Bersama SUV Mercedes-Benz

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mercedes-AMG G 63 Edition. 15 Januari 2019. (MBDI)

    Mercedes-AMG G 63 Edition. 15 Januari 2019. (MBDI)

    Goa Jomblang

    Esoknya, kami melanjutkan perjalan menuju Goa Jomblang yang berada di Desa Jetis Wetan, Pacarejo, Semanu, Gunungkidul. Jaraknya lumayan jauh dari hotel tempat kami menginap, sekitar 100 kilometer dengan waktu tempuh hampir 3 jam.

    Tempo bersama teman dari Liputan6.com tidak lagi mengendarai GLA 200 AMG Line. Kami gantian menggemudikan Mercedes-Benz GLC 200 AMG Line. GLC 200 AMG Line merupakan mobil yang cukup menyenangkan untuk dikendarai. Rival dari Audi Q5, Lexus NX, dan BMW X3 ini memiliki handling dan kenyamanan yang cukup bisa diandalkan. Mobil ini ditenagai mesin 1.991 cc dengan output 184HP. Tenaga mesin ini disalurkan ke roda penggerak melalui transmisi otomatis 9G-TRONIC 9-Speed. Cukup bertenaga dan responsip saat berakselerasi.

    Pemandangan di dalam Goa Jomblang di Gunungkidul, DIY. 14 Januari 2019. TEMPO/Wawan Priyanto.

    Impresi kami, mengendarai mobil seharga Rp 985 juta (off the road) ini sangat berbeda dengan saat kami menjajal GLA 200 AMG Line di hari pertama. GLC 200 AMG Line memiliki kesenyapan kabin yang lebih baik. Bantingan suspensinya juga terasa lebih nyaman. Nyaris tanpa suara dan minim guncangan saat melintasi permukaan jalan yang tidak rata. 

    Goa Jomblang merupakan obyek wisata yang masih baru di Gunungkidul. Goa ini mulai ramai dikunjungi wisatawan pada 2010. Tahun 2012, goa ini mulai digarap secara profesional. Goa dengan kedalaman 60 meter ini berada di desa yang cukup terpencil, namun akses menuju lokasi ini sudah cukup baik. Masih jalanan berbatu tapi lebih rata dibanding jalan akses menuju Pantai Widodaren.

    Kembali ke goa, di sekitar lokasi sudah dibangun beberapa bangunan yang kemungkinan besar dapat dimanfaatkan untuk beristirahat bagi wisawatan. Atau bahkan bisa untuk menginap bagi yang ingin bermalam.

    Wisatawan harus turun ke dalam goa sedalam 60 meter ini untuk dapat menikmati 'cahaya surga’. Ya, cahaya surga merupakan istilah untuk melihat cahaya matahari menembus rimbunnya hutan jati di sekitar lubang gua di sebelah dalam. Di dasar goa, terdapat aliran sungai bawah tanah. Aliran sungai ini berada sekitar 100 meter dari titik pendaratan.

    Pemandangan di dalam Goa Jomblang yang biasa disebut 'cahaya dari surga'. Goa ini terletak di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. 14 Januari 2019. TEMPO/Wawan Priyanto

    Untuk mencapai pinggir aliran sungai ini, wisatawan melintasi dasar goa yang lembab dan berlumpur. Tenang, wisatawan akan dibekali dengan sepatu boots. Wisatawan juga akan dipandu beberapa petugas terampil.

    Gatot, salah satu petugas yang berjaga di dasar goa, menceritakan bahwa Goa Jomblang mulai dilirik wisatawan mancanegara dan lokal. “Tapi saat ini yang berkunjung masih banyak yang dari mancanegara,” katanya.

    Cahaya surga hanya akan muncul dalam beberapa kesempatan, sekali muncul, sekitar 1 menit. Cahaya ini akan menerangi dasar gua dan menyajikan pemandangan yang menakjubkan. Stalaktit dan stalaknit yang terbentuk sejak ribuan tahun silam akan terlihat dengan jelas. 

    Warna-warni cahaya surga menjadi lebih dramatis dengan uap air yang kemungkinan berasal dari derasnya aliran sungai bawah tanah di dasar goa. Pemandangan indah ini rasanya cukup sepadan dengan biaya yang harus dikeluarkan, yakni sebesar Rp 500 ribu per orang. Oh iya, jam 11.00 WIB merupakan batas terakhir wisatawan turun ke dasar goa dan harus naik ke atas sebelum jam 15.00 WIB. Sebab, cahaya matahari sebagai obyek wisata utama di dalam goa hanya muncul di antara jam-jam tersebut. Lebih tepatnya di jam 12.00-13.00 WIB.

    Goa Jomblang menjadi satu-satunya destinasi wisata yang kami kunjungi di hari kedua Mercedes-Benz Hungry for Adventure 2019. Sore hari sekitar pukul 15.00 WIB kami meninggalkan goa menuju Plataran Heritage, tempat kami menginap. Sebenarnya inilah waktu yang kami tunggu-tunggu, mengendarai SUV Mercedes-Benz di jalanan dengan lalu lintas yang lumayan padat. Hasilnya, sama sekali tak membosankan. Alunan musik bergenre pop rock menjadi teman kami sepanjang 3 jam perjanan pulang.

    Mercedes-Benz GLC 200 AMG Line. (MBDI)

    Suasana hujan membuat kami mesti semakin waspada dalam mengemudi. Beruntung, SUV GLC 200 AMG Line mengalami sejumlah update pada November 2018. Salah satunya dengan menyematkan Blind Spot Assist yang mampu memberikan peringatan ketika ada obyek di sekitar mobil, seperti misalnya sepeda motor di sisi samping kiri maupun kakan. Fitur ini cukup membantu pengemudi agar lebih waspada.

    Malam kami sampai di hotel. Setelah makan malam, kami manfaatkan untuk istirahat karena esok pagi-pagi sekali kami harus bersiap untuk memulai petualangan di destinasi selanjutnya.

    Selanjutnya Candi Borobudur


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.