Saingi Ford F-150, Cina Ekspor Pikap Listrik ke Amerika Serikat

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pikap listrik Kaiyun Motors, Pickman 1, yang akan diekspor ke Amerika Serikat. (Kaiyun Motors)

    Pikap listrik Kaiyun Motors, Pickman 1, yang akan diekspor ke Amerika Serikat. (Kaiyun Motors)

    TEMPO.CO, Chicago - Media lokal di Chicago, Amerika Serikat, melaporkan pada Senin, 28 Januari 2019, bahwa perusahaan startup kendaraan listrik Cina, Kaiyun Motors, berencana untuk mengekspor pikap listrik ke pasar AS tahun ini. 

    Kaiyun Motors memiliki persetujuan dan rencana untuk menjual sebanyak 10.000 truk listrik Pickman di Amerika Serikat tahun ini, Detroit News mengutip perkataan pendiri perusahaan, Wang Chao. 

    Baca: Garangnya Mobil Kabin Ganda Tesla: Lampu Sipit Ban Besar

    Pickman akan dijual dengan harga US$ 5.000 di Amerika Serikat dan 5.000 euro (US$ 5.700) di Eropa. Pickman ukurannya jauh lebih kecil daripada pikap buatan AS dan harganya hanya sepersepuluh dari Ford F-150. Ia memiliki jangkauan mengemudi 120 mil (120 kilometer) dengan sekali pengisian baterai. 

    "Dengan kecepatan tertinggi 28 mil (45 km) per jam, Pickman diklaim cocok untuk pemilik pertanian, karyawan pabrik memindahkan muatan di lokasi kerja mereka, dan komuter," kata Wang. 

    Baca: Mobil Listrik Asal Cina Unjuk Gigi di Los Angeles Auto Show

    "Dengan kapasitas untuk membawa barang seberat 1.100 pound (500 kilogram), kendaraan itu akan cukup bagi sebagian besar pengguna pikap."

    Sebagai bagian dari rencana ekspansi, lanjut dia, perusahaan memilih lokasi untuk pabrik di Amerika Selatan.

    "Kendaraan listrik mini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari konsumen," kata Wang. "Potensinya sangat besar di seluruh dunia."

    CHINA DAILY 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.