Kampanye Marak Pakai Knalpot Bobokan, Ini Dampak Buruk pada Mesin

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepolisian Yogya saat menindak para simpatisan kampanye di Yogya yang motornya menggunakan knalpot blombong Minggu 3 Februari 2019. Tempo/Pribadi Wicaksono

    Kepolisian Yogya saat menindak para simpatisan kampanye di Yogya yang motornya menggunakan knalpot blombong Minggu 3 Februari 2019. Tempo/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Setiap tiba masa kampanye atau acara partai politik, kerap muncul pula aktivitas massa yang melakukan konvoi kendaraan yang menyertakan knalpot bobokan atau blombong dengan raungan yang memekakkan telinga.

    Meski aktivitas konvoi dengan knalpot tak standar itu kerap ditindak pihak kepolisian dalam bentuk tilang atau hukuman memperdengarkan suara knalpot itu ke pemilik kendaraan dari jarak dekat, namun tradisi itu sulit dihilangkan dan tetap terus terjadi sampai hari ini.

    Baca: Riset Knalpot Akrapovic Menggunakan Robot Pintar

    Sebenarnya apa dampak knalpot blombong itu pada mesin? "Kalau dampak baiknya enggak ada, dampak buruk banyak," ujar pemilik showroom dan bengkel motor bekas Semangat Motor Yogyakarta, Doni Erwanto alias Sentot kepada Tempo Senin 4 Februari 2019.

    Sentot memberi gambaran sederhana, motor dengan knalpot blombong seperti manusia yang sebenarnya hanya punya kemampuan makan tiga piring sehari namun diminta makan puluhan piring dalam waktu yang sama.

    "Ada beban besar yang harus ditanggung mesin saat knalpot di blombong, terlebih kalau mesin tetap standar, bakal turun mesin lebih cepat," ujarnya. Sentot menuturkan knalpot blombong mau tak mau memperpendek usia mesin.

    Ia menjelaskan beban pertama yang ditanggung mesin motor dengan knalpot blombong itu terutama bagian seher atau piston. Seher motor dipaksa terus beradu dengan intensitas lebih cepat dan lama sampai menimbulkan panas lebih cepat pada mesin. Seher bisa terkunci mendadak dan yang paling parah pecah seketika karena tak kuat menahan beban.

    Setelah seher atau bagian silinder piston luka karena beban tinggi itu, biasanya akan merembet mengenai stang seher. Hal ini bisa terjadi ketika seher yang tadinya pergerakannya normal menjadi butuh pelumasan lebih boros. Saat oli yang menunjang pergerakan seher boros, stang seher akan kekuarangan pelumasan dan akhirnya ikut bermasalah.

    Simak: Motor Jawa 300 Akan Memiliki Suara Knalpot Mirip 2 Tak?

    Tak berhenti sampai di situ, ujar Sentor, usai seher dan stang seher bermasalah, bagian bandul kopling selanjutnya ikut terkena dampaknya. Motor pun jadi kehilangan tenaganya dan mau tak mau harus turun mesin. "Turun mesin pun tak jaminan mengembalikan kondisi jadi seperti semula, wong semula semuanya presisi dipasang oleh pabrik terus dirakit manusia," ujar Sentot.

    Sentot pun mengatakan biaya turun mesin untuk motor bebek berkisar Rp 700-800 ribu. Sedangkan motor sport bisa di atas Rp 1 juta. "Malah untuk seri tertentu tak bisa ganti seher saja, harus sekalian buringnya, dan itu bisa sampai Rp 3 juta," ujarnya.

    Sentot pun menuturkan sebaiknya motor tetap menggunakan knalpot standar pabrik demi amannya. "Kalau sudah pernah turun mesin, harga jualnya sangat jatuh karena perawatan motor itu ke depan bakal besar, " ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.