Pembeli Mobil Mewah BMW Paling Banyak Bayar Tunai, Ini Alasannya

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • BMW meluncurkan mobil SUV terbarunya X4. TEMPO/Imam Ghozali

    BMW meluncurkan mobil SUV terbarunya X4. TEMPO/Imam Ghozali

    TEMPO.CO, Jakarta - BMW, produsen mobil mewah asal Jerman mematok harga yang mahal untuk produknya. Tapi saat ini, semakin banyak orang Indonesia membeli mobil mewah seperti BMW, secara tunai.

    Baca: Tampilan Depan BMW X7 2019 Angry Look, Lampu Laserlight

    Vice President of Corporate Communication BMW Group Indonesia, Jodie O'tania, mengatakan lebih dari setengah pelanggan mereka membeli mobil secara tunai. "Transaksi menggunakan uang cash masih lebih banyak. Sekarang yang biasa aku katakan 60 persen melakukan transaksi cash," ujarnya di Museum Macan, Kebon Jeruk, Jakarta.

    Menurut Jodie, hal tersebut terjadi karena saat ini kebanyakan pelanggan BMW di Indonesia berprofesi sebagai pengusaha. Sehingga tidak ragu untuk mengeluarkan uang tunai untuk membeli mobil mewah sekelas BMW.

    Profesi sebagai pengusaha itulah, tambah Jodie, membuat pelanggan BMW sudah matang dalam berpikir untuk membeli mobil secara tunia atau kredit. "Dengan mencicil kan pasti akan ada jumlah yang lebih banyak untuk dibayar (bunga), jadi mereka lebih pilih membayar tunai," ujarnya.

    Seperti halnya BMW X4 terbaru yang belum lama ini resmi meluncur di Indonesia. Mobil SUV itu sudah banyak yang memesannya, bahkan sebelum diluncurkan. Padahal harga yang dibanderol untuk BMW X4 terbaru itu lebih dari Rp 1,4 miliar.

    Simak: 2019, BMW Akan Luncurkan Beberapa Model Baru Kendaraan Listrik

    "Dan bahkan sudah ada konsumen yang order. Kurang dari 20 unit sampai dengan akhir tahun. Dan kalau sekarang yang ready sudah ada beberapa unit, dan sudah ada yang melakukan pembelian," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menurut WHO, Kanker Membunuh 8 Juta Orang Selama 2018

    Menurut WHO, kanker menjadi pembunuh nomor wahid. Penyakit yang disebabkan faktor genetis dan gaya hidup buruk itu membunuh 8 juta orang selama 2018.