Skandal Carlos Ghosn Bikin Laba Bersih Nissan Anjlok

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Carlos Ghosn, Chairman and CEO of the Renault-Nissan Alliance, memperkanalkan mobili listrik Renault K-ZE saat peluncurannya di acara

    Carlos Ghosn, Chairman and CEO of the Renault-Nissan Alliance, memperkanalkan mobili listrik Renault K-ZE saat peluncurannya di acara "The Electrical Revolution: The Story Continues" dalam pembukaan Paris Auto Show di Paris, Prancis, 1 Oktober 2018. Mobil Renault K-ZE memiliki fitur sensor parkir, kamera belakang, dan layar audio yang sudah terkoneksi dengan Internet. REUTERS/Benoit Tessier

    TEMPO.CO, Jakarta - Produsen mobil Jepang, Nissan, memangkas proyeksi laba setahun penuh, setelah keuntungan bersih dalam sembilan bulan tahun fiskal 2018 mereka anjlok 45 persen, sejak penangkapan mantan presiden perusahaan Carlos Ghosn.

    Perusahaan itu mengungkap beberapa penyebab penurunan keuntungan, antara lain meningkatnya biaya bahan baku dan penurunan nilai tukar mata uang asing yang membuat laba bersih merosot 45,2 persen menjadi 316,7 miliar yen (US$2,9 miliar).

    Kinerja sembilan bulan tahun fiskal yang mengecewakan serta perubahan dalam metode akuntansi, memaksa produsen menurunkan perkiraan laba bersih pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2019  menjadi 410 miliar yen, dibandingkan target sebesar 500 miliar yen.

    Baca: Mitsubishi Motors Ungkap Hasil Investigasi Kasus Carlos Ghosn

    Penjualan tahunan juga diprediksi sebesar 11,6 triliun yen, turun dari perkiraan sebelumnya 12 triliun yen.

    Kinerja kurang memuaskan itu muncul saat Nissan dan mitra aliansi -- Renault dan Mitsubishi -- berupaya membuka lembaran baru seusai pimpinan aliansi Ghosn ditangkap karena pelanggaran keuangan.

    CEO Nissan Hiroto Saikawa berjanji akan "memperbaiki" hubungan perusahaan dengan Renault, sejalan dengan upaya bos baru Renault Jean-Dominique Senard yang akan bertandang ke Jepang pada pekan ini.

    "Aliansi ini adalah kekuatan dan aset kami yang sangat besar," kata Saikawa kepada wartawan, Selasa, 12 Februari 2019. 

    Baca: Renault Tunjuk Bos Baru Gantikan Carlos Ghosn yang Dipenjara

    Dia mengatakan, perusahaan "saling menghormati independensi" tetapi berusaha untuk mendapatkan hasil yang "saling menguntungkan" dengan cara memaksimalkan sinergi antarperusahaan.

    Satoru Takada selaku analis dari perusahaan riset dan konsultasi TIW yang berbasis di Tokyo, memperingatkan bahwa aliansi itu akan menghadapi jalan terjal.

    "Kebingungan seputar manajemen Nissan diperkirakan akan berlangsung lama, karena tidak mudah bagi kedua perusahaan untuk mencapai kesepakatan tentang masalah-masalah sulit, termasuk hubungan terkait modal," kata Takada.

    "Sulit menemukan manajer seperti Ghosn yang dapat mengambil tindakan seimbang," katanya. "Kita perlu melihat apakah kebingungan akan berdampak langsung pada kinerjanya mulai sekarang."

    Berita lain tentang Nissan bisa Anda simak di Tempo.co.

    Antara


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi dan Tantangan Jozeph Paul Zhang, Pria yang Mengaku Nabi Ke-26

    Seorang pria mengaku sebagai nabi ke-26 melalui media sosial. Selain mengaku sebagai nabi, dia juga melontarkan tantangan. Dialah Jozeph Paul Zhang.