Diam-diam DFSK Sudah Ekspor Glory 580

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • DFSK Glory 580 di GIIAS 2018. 2 Agustus 2018. TEMPO/Wawan Priyanto

    DFSK Glory 580 di GIIAS 2018. 2 Agustus 2018. TEMPO/Wawan Priyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Sokonindo Automobile, agen pemegang merek (APM) Dongfeng Sokon (DFSK) di Indonesia diam-diam sudah mengirim produk Sport Utility Vehicle (SUV) andalannya Glory 580 ke luar negeri. Ekspor disebut sudah mulai berjalan sejak akhir 2018.

    Hal tersebut disampaikan Public Relation and Digital Manager DFSK, Arviane Dahniarny Bahar. Ia menyebut Desember 2018 DFSK mulai mengekspor Glory 580.

    “Kami tuh akhir 2018, Desember sudah ekspor, Glory 580, kami sudah mulai,” ujarnya kepada wartawan, di Jakarta, Rabu 13 februari 2019.

    Baca: SUV DFSK Terbaru Segera Meluncur, Harga Kompetitif

    Ekspor yang sudah dilakukan, kata wanita yang akrab disapa Anne itu, mengklaim karena pabrik DFSK di Indonesia menjadi yang paling baik se-Asia Tenggara. Wajar, karena pabrik yang berada di Cikande, Banten itu memiliki luas tanah 20 hektare. Total investasinya juga tidak main-main, US$100 juta atau setara dengan Rp 1,4 triliun, dengan kapasitas produksi 50.000 unit per tahun.

    “Iya kami kan best expert di Asia Tenggara, pabrik di Indonesia,” katanya.

    Sudah ada tiga negara yang menjadi  tujuan pasar Glory 580 di Asia Tenggara, yakni Bangladesh, Thailand, dan Sri Lanka. Namun sayangnya untuk informasi jumlah unit yang sudah diekspor belum dapat dibeberkan.

    Baca: Inikah SUV DFSK Terbaru yang Segera Dipasarkan di Indonesia?

    “Ekspor masih CKD (Completely Knock-Down). Yang sudah fix itu ke Thailand, Bangladesh, dan Sri Lanka,” tutur Anne.

    “Nanti akan ada ceremony ekspor mobil DFSK. Jumlahnya nanti lah, karena kan masih baru (ekspornya),” ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru E - Commerce yang Tertuang dalam PP PMSE

    Pemerintah resmi menerbitkan regulasi tentang e-commerce yang tertuang dalam PP PMSE. Apa yang penting dalam aturan baru tersebut?