Modal Rp 1,5 Juta, Aset Lapak Satu Setengah Kini Rp 500 Juta

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Toko part motor kustom, Lapak Satu Setengah, di Depok, Jawa Barat. 28 Februari 2019. TEMPO/Wisnu Andebar

    Toko part motor kustom, Lapak Satu Setengah, di Depok, Jawa Barat. 28 Februari 2019. TEMPO/Wisnu Andebar

    TEMPO.CO, Jakarta - Penjual berbagai macam part kustom motor asal Depok, yaitu Lapak Satu Setengah ternyata memiliki sejarah unik. Nama itu terinspirasi sesuai modal awal saat membuka usaha tersebut, modal yang dikeluarkan Rp 1,5 juta. 

     

    "Jadi nama Lapak Satu Setengah sesuai modal awal yang dikeluarkan Rp 1,5 juta," ujar pemilik Lapak Satu Setengah, Ibung kepada Tempo di Depok Kamis, 28 Februari 2019. 

    Baca: Sadis, Motor Kustom Asal Bogor Ini Pakai Mesin Toyota Kijang

    Selain hobi motor kustom dan klasik, awalnya ia hanya beli part seadanya untuk dijual lewat situs jual beli online, dan saat itu pada 2010 ia belum memiliki toko. "Dulu saya jualan lewat situs jual beli online sekitar tahun 2010 masih di rumah. Setelah mulai maju dan barang semakin banyak , aya putuskan buka toko pada tahun 2014," katanya.

    Beragam tangki bensin sepeda motor lawas di Lapak Satu Setengah, Depok, Jawa Barat. TEMPO/Wisnu Andebar.

    Ketika sudah berhasil membuka toko pada tahun 2014, Ibung masih bekerja di salah satu perusahaan pembiayaan hingga 2015, dan memutuskan untuk fokus mengembangkan usahanya.

    "Keluar kerja tahun 2015, setelah itu baru saya fokus untuk mengembangkan Lapak Satu Setengah ini," katanya.

    Baca: Ini Perbedaan Kustom Speedometer Akrilik dan Indiglow

    Dulu, lanjut dia, saat masih awal, part yang dijual sangat terbatas, hanya sepatbor, tangki, masih belum banyak. Tapi pelan-pelan semakin berkembang. Kini ia sudah mengirim barang hingga ke Bali, Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi. Asetnya pun sekarang sekitar Rp 500 juta. "Sekarang part kustom sudah lengkap, konsumen bisa beli grosiran maupun eceran," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.