Komunitas Yakin Toyota Sienta Tak Akan Stop Produksi, Alasannya..

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Toyota Sienta 2017

    Toyota Sienta 2017

    TEMPO.CO, Jakarta - Penjualan Toyota Sienta memang tidak segemilang mobil Multi Purpose Vehicle (MPV) andalan Toyota, Avanza. Tren penjualan mobil pesaing Honda Freed ini terus menurun.

    Penjualan Sienta menurut catatan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menurun. Penjualan Sienta sepanjang 2018 hanya mencapai 5.113 unit selama setahun penuh. Padahal, pada 2017 penjualan Sienta mencapai 14.968 unit dan pada 2016 tercatat 17.931 unit.

    Baca: Toyota Sienta Facelift Akan Meluncur April 2019?

    Menanggapi hal tersebut Ketua Umum (Ketum) Toyota Sienta Community Indonesia (TOSCA), Nandang Sugianto, meyakini bahwa PT Toyota Astra Motor (TAM) selaku agen pemegang merek Toyota di Indonesia akan terus mempertahankan Sienta di Indonesia. "Saya yakin sienta nggak bakal discontinue," tegasnya kepada wartawan, di Jakarta, Selasa 5 Maret 2019.

    Lantas apa faktor yang membuatnya sangat yakin? Kata Nandang, ekspor Toyota Sienta buatan lokal ke beberapa negara menjadi alasannya. "Ke Thailand itu kalau nggak salah 800 unit, terus Singapura 500 unit. Jadi saya berdasarkan informasi dari temen-temen Toyota nyaman lah," katanya.

    Sebab menurutnya, memang di pasar domestik Toyota Sienta kurang diminati, mungkin karena mobil jeni sliding door. Namun lain halnya dengan pasar di negara lain. Penjualan Toyota Sienta tokcer.

    Baca: Toyota Sienta 2018 Tampil Lebih Sporty Siap Lawan Honda Freed

    "Tapi saya yakin Sienta ini di luar (negeri). Di Thailand itu ekspornya kenceng makanya saya yakin nggak bakal discontinue," tutur Nandang.

    "Saya juga banyak teman-teman dari komunitas yang kerja di TMINN ya di Toyota gitu. Memang karakter orang Indonesia kurang familiar dengan mobil sliding," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Vaksin Nusantara

    Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menuai pro dan kontra.