Punya Motor Indian 1916, Handoko Ungkap Susahnya Berburu Koleksi

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Motor Indian keluaran 1916 yang sangat langka koleksi Merpati Museum. 9 Maret 2019. Tempo /Pribadi Wicaksono

    Motor Indian keluaran 1916 yang sangat langka koleksi Merpati Museum. 9 Maret 2019. Tempo /Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Pendiri museum Merpati Museum Yogyakarta, David Sunar Handoko, 63, mungkin termasuk salah satu pengoleksi motor tua, mobil klasik dan sepeda kuno terbanyak, tak hanya di Indonesia tapi juga dunia.

    Bos jaringan usaha jual beli motor Merpati Grup Yogya itu memiliki 400 motor tua keluaran 1916-1980, 60 unit mobil tua keluaran 1925-1983, juga 500 sepeda kuno keluaran 1890-1970.

    Sebuah media otomotif di tanah air bahkan sempat menjuluki ayah dua anak itu Juru Selamat Motor Kuno.

    Julukan itu diberikan karena Handoko sejak tahun 1990 berburu motor tua ke penjuru Indonesia dengan tujuan agar motor tua legendaris tak habis setelah diangkuti secara masif para kolektor manca dari Indonesia ke luar negeri era tahun 1990 an.

    "Bagaimanapun motor kuno itu kan barang kesayangan, kalau pemilik belum bosan ya untuk membelinya jelas susah, pendekatan bisa bertahun-tahun," ujar Handoko ditemui Tempo di Yogya Sabtu 9 Maret 2019.

    Baca: Menyambangi Merpati Museum, Surga Mobil dan Motor Kuno

    Ayah dua anak itu mengaku dalam perburuannya mendapatkan motor motor kuno sering menemui kesulitan, bahkan kadang tak masuk akal.

    Misalnya saja, pertengahan 1990 an silam, Handoko bertemu seorang di Solo Jawa Tengah yang memiliki beberapa koleksi Harley Davidson tua yang kondisinya hanya teronggok di gudang rumahnya yang terletak di dalam perkampungan padat.

    Handoko pun coba menawarnya untuk dibangun kembali lalu dipajang di museumnya yang beralamat di Jalan KH. Ahmad Dahlan Ngampilan Kota Yogyakarta.

    Namun orang tersebut ternyata hanya bersedia melepas semua Harley tuanya kepada Handoko asalkan Handoko juga sekalian membeli rumahnya. Handoko pun tak bisa menyanggupi syarat itu karena ia tak butuh rumah dan biayanya tentu sangat besar.

    Deretan motor tua langka koleksi Merpati Museum Yogyakarta. 9 Maret 2019. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    "Saya bukan tipe orang yang beli ngawur meskipun ada barang bagus, kalau ngawur nanti uang yang harusnya bisa buat beli lima motor jadi cuma dapat satu motor," ujar pria yang di museumnya juga memiliki sepeda motor tua merk Indian buatan Amerika tahun 1916 itu.

    Handoko mengakui butuh seni dan kesabaran tersendiri untuk berburu motor atau mobil antik itu. Jika bertemu sesama kolektor atau penghobi motor lawas tentu mendapatkan motor yang diinginkan jauh lebih susah.

    "Kalau ketemu orang yang hobinya sama (motor tua) pendekatannya (untuk bisa dibeli) bisa sangat lama, tak bisa sekali datang jadi bisa bertahun-tahun," ujar Handoko yang sempat delapan tahun pendekatan demi bisa memiliki sebuah Harley-Davidson Knucklehead 1959 dari seseorang di Bogor.

    Lamanya pendekatan untuk Handoko membeli motor yang diincar bisa karena banyak faktor. Pertama jelas jika pemiliknya masih sayang sehingga harga pun tak bicara atau malah terlampau mahal. Kedua, lamanya pendekatan bisa jadi karena motor tua yang diincar masih berbentuk bahan alias harus dibangun ulang.

    Baca: Onthel Bekas Pastor Ini Tak Dilepas Meski Ditukar Honda Brio Baru

    "Jaman tahun 1990 an kan juga enggak gampang cari sparepart, harus impor, enggak seperti sekarang tinggal cari di internet bisa dapat," ujar pria yang di museumnya juga punya koleksi motor langka
    produksi Inggris Chater Lea 1924 itu.

    Meski demikian, Handoko juga menuturkan seiring waktu dan pengalaman, perburuan motor juga mobil makin lama caranya praktis.

    Misalnya saat berburu mobil antik, Handoko kadang tak terjun langsung. Pria kelahiran 12 November 1955 itu biasanya akan meminta foto motor atau mobil penjual yang bersangkutan lebih dulu sekalian meminta rentang harga yang ditawarkan. Jika kondisi dan harga masuk alias masih bagus-orisinil serta harga masuk kisarannya, maka ia tak ragu membeli.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ekspor Benih Lobster, dari Susi Pudjiastuti hingga Edhy Prabowo

    Kronologi ekspor benih lobster dibuka kembali oleh Edhy Prabowo melalui peraturan menteri yang mencabut larangan yang dibuat Susi Pudjiastuti.