Test Drive Wuling Almaz: Fitur Mewah, Mesin Jagoan, Tapi..

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Test drive Wuling Almaz, Jakarta-Sukabumi-Bandung, 6-8 Maret 2019. (Wuling Motors Indonesia)

    Test drive Wuling Almaz, Jakarta-Sukabumi-Bandung, 6-8 Maret 2019. (Wuling Motors Indonesia)

    TEMPO.CO, Jakarta - Setelah sukses dengan Confero dan Cortez, Wuling Motors Indonesia mulai menggarap pasar Sport Utility Vehicle dengan Wuling Almaz. Tempo dan beberapa jurnalis lainnya sempat menjajal performa dan kenyaman Almaz dari Jakarta ke Bandung.

    Baca: Setelah Luncurkan Almaz, Wuling Siapkan Jagoan Baru?

    Saat Tempo masuk ke mobil, kesan pertama yang muncul adalah kemewahan. Dengan banderol Rp 318,8 juta, menurut Tempo, kabin Wuling Almaz yang dalam bahasa Arab berarti berlian itu mewah yang dibuktikan dengan tampilan kursi dengan jahitan kulit. 

    Penampilan SRS airbag Wuling Almaz saat peluncurkan di Sirkuit Sentul, Jawa Barat, Rabu 23 Januari 2019. TEMPO/Wawan Priyanto

    Ukuran kursi yang pas dengan ukuran tubuh normal orang Indonesia, serta lekukan kursinya juga membuat Tempo merasa nyaman saat menjadi pengemudi dan penumpang. Model jok dengan memeluk penumpang sehingga memberikan kenyamaan saat perjalanan jauh.

    Ditambah adanya sistem electric seat adjuster, di mana pada saat menjadi pengemudi, tidak perlu repot mengatur posisi kursi secara manual, tinggal tekan tombol yang ada di kanan kursi, maka kursi akan menyesuaikan. Namun untuk kursi penumpang belum disematkan sistem tersebut.

    Kesan mewah bertambah dengan penggunaan layar sentuh raksasa berukuran 10,4 inci dengan berbagai pilihan entertaiment di dalamnya, yang juga mengingatkan Tempo dengan mobil listrik asal Amerika Serikat, Tesla. Masih jarang model yang dipasarkan di dalam negeri dengan layar sentuh 10 inci, rata-rata berukuran 8 inci.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?