Alasan Peluang Bisnis Komponen Otomotif Masih Potensial

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja merakit mobil MINI Countryman rakitan Indonesia di BMW Group Production Network 2, PT Gaya Motor, Jakarta, Kamis, 6 September 2018. PT BMW Group Indonesia akhirnya menyelesaikan tahap pertama perakitan secara lokal 48 unit New MINI Countryman di pabrik PT Gaya Motor, Sunter, Jakarta. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Pekerja merakit mobil MINI Countryman rakitan Indonesia di BMW Group Production Network 2, PT Gaya Motor, Jakarta, Kamis, 6 September 2018. PT BMW Group Indonesia akhirnya menyelesaikan tahap pertama perakitan secara lokal 48 unit New MINI Countryman di pabrik PT Gaya Motor, Sunter, Jakarta. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Peluang bisnis komponen otomotif di Indonesia masih menjanjikan mengingat tanah air menjadi negara dengan angka penjualan mobil terbesar di kawasan Asia Tenggara. Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kemenkop dan UKM Victoria Simanungkalit di Jakarta, Senin 8 April 2019, memproyeksikan bisnis komponen otomotif di Indonesia memiliki masa depan yang menjanjikan.

    “Oleh karena itu, kami memberi ruang bagi pelaku koperasi dan UKM khususnya yang bergerak di bidang komponen otomotif supaya memanfaatkan peluang tersebut,” katanya.

    Baca: IKM Koperasi Batur Jaya Tembus Jadi Pemasok Komponen untuk Toyota

    Berdasarkan data Federasi Otomotif ASEAN (AAF), Indonesia memimpin pasar sekaligus sebagai negara dengan angka penjualan mobil terbesar di ASEAN. Pada 2017 penjualan mobil secara nasional 1,079 juta unit, meningkat menjadi 1,151 juta unit pada 2018.

    Produksi mobil di Indonesia pada 2018 berada di peringkat kedua dengan angka 1,216 juta unit, atau tumbuh 3 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya 1,177 juta unit. Indonesia juga menduduki peringkat kedua terbesar industri manufaktur mobil se-Asia Tenggara setelah Thailand.

    Ia mengatakan pengembangan UKM komponen otomotif sangat penting dan strategis untuk mendorong pembangunan otomotif nasional pada satu sisi dan pada sisi lain sekaligus melibatkan partisipasi aktif bisnis KUKM dalam proses pembangunan industri otomotif nasional.

    “Saya katakan penting karena industri otomotif Indonesia merupakan salah satu pilar penting daman perekonomian nasional di mana permintaan produk otomotif di dalam negeri sangat besar dan diperkirakan akan terus berkembang sejalan dengan pertumbuhan populasi penduduk dan kemajuan ekonomi masyarakat,” kata Victoria.

    Baca: Begini Kiat Toyota Menekan Harga Jual Produknya

    Victoria saat itu berbicara dalam acara ‘Kick Off Pengembangan KUKM Komponen Otomotif Kawasan Industri Pulo Gadung’ di Jakarta yang turut dihadiri antara lain Presiden Institut Otomotif Indonesia I Made Dana Tangkas, Ketua Koperasi Perkampungan Industri Kecil Pulo Gadung Ali Rasyidi, serta Asdep Industri dan Jasa Kemenkop UKM Ari Anindya Hartika.

    Meski menempati urutan tetatas dalam hal penjualan dan produksi mobil, di sisi lain kebutuhan komponen otomotif mobil Indonesia sebagian besar masih dipasok melalui pengusaha KUKM negara lain. Hal itu terjadi karena mutu produk UKM dalam negeri dinilai kurang memenuhi standar yang dibutuhkan.

    “Besarnya impor komponen otomotif yang mencapai 80 persen membuat neraca perdagangan Indonesia menjadi minus. Kondisi ini juga menunjukkan pasar komponen masih dikuasai prinsipal utama dari luar Indonesia,” ungkap Victoria. Untuk itu, Victoria mengharapkan supaya pengembangan UKM komponen otomotif perkampungan industri kecil Pulo Gadung dapat diwujudkan dalam rangkap pengembangan industri otomotif Indonesia berkelanjutan. Upaya tersebut dapat dilakikan dengan langkah-langkah nyata yang melibatkan stakeholders terkait.

    ANTARA

    Baca: Impor Komponen Otomotif Naik 33 Persen, Ini Target Kemenperin


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.