Tips Berkendara Jauh Saat Berpuasa, Ini yang Harus Dijaga

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemudik berkendaraan sepeda motor melintasi kawasan Simpang Jomin, Purwakarta, Jawa Barat, Kamis, 16 Juli 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Pemudik berkendaraan sepeda motor melintasi kawasan Simpang Jomin, Purwakarta, Jawa Barat, Kamis, 16 Juli 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Saat puasa aktivitas harus tetap berjalan, terlebih ketika melakukan perjalanan jauh setiap harinya. Pola istirahat dan asupan harus selalu dijaga dengan baik. Pendiri dan instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, mengtkan saat puasa itu yang namanya asupan berkurang atau terbatas, sedangkan di satu sisi kita melakukan perjalanan jauh.

    Otomatis, yang terjadi adalah satu aktifitas dan perjalanan yang cukup berat. Oleh karena itu ketika asupan terbatas, seperti cairan, karbohidrat, dan protein. Efeknya stamina berkurang dan drop. Ketika stamina drop kemampuan persepsi dan kemampuan reaksi motorik akan menurun. Sehingga situasi yang harus dicerna oleh indera dan disikapi oleh anggota tubuh melalui saraf motorik, tidak seperti pada bulan-bulan normal.

    Baca: Tips Mengemudi Mobil Saat Malam Hari Agar Aman dan Nyaman

    Konsekuensinya, lanjut jusri, peluang kesalahan atau tingkat kesalahan menjadi besar. Efek buruknya adalah kecelakaan atau hilang kendali. Oleh karena itu, pemotor atau pengendara mobil yang melakukan perjalanan cukup panjang saat menjalankan ibadah saum harus perhatikan pola istirahat.

    “Karena istirahat yang cukup akan memberikan efek posiftif pada stamina, jadi selesai solat tarawih kita tidak perlu melakukan aktifitas panjang kemudian baru tidur layaknya bulan bulan biasa. Usahakan jam 10 sudah tidur,” ujarnya kepada Tempo pada Senin, 6 Mei 2019.

    Ia menyarankan agar akhirkan waktu sahur dan jangan didahulukan misalnya pada pukul 02.00, karena menurutnya, siklus istirahat semacam ini akan memberikan kualitas yang tidak baik. Oleh karena itu pola waktu sahur harus diubah mendekati waktu imsak, misalnya waktu subuh 04.45, usahakan sahur jam 04.00. Setelah sahur dan shalat subuh, jika masih ada waktu bisa tidur lagi.

    “Ini namanya tidur power nap, tidur yang paling lama satu jam tapi berkualitas. Ini bisa memberikan efek stamina yang bagus diluar dari asupan,” katanya.

    Lalu usahakan saat di perjalanan paling lama berkendara 1,5 hingga 2 jam harus berhenti untuk istirahat, minimal istirahat 30 menit. Pada saat istirahat, kalau masih pagi hari bisa istirahat di musola atau masjid untuk melaksanakan shalat dhuha, jadi ibadah dapat aktivitas pun dapat.

    Menjelang shalat zuhur bisa istirahat lagi sekaligus melaksanakan ibadah shalat zuhur, dengan demikian kebugaran bisa diperoleh dalam satu aspek, yaitu kebugaran dari pola istirahat.

    Baca: Tip Menaikkan Ukuran Velg Mobil Agar Tetap Aman Dipakai Harian

    Ia juga menganjurkan perhatikan asupan makanan saat sahur untuk konsumsi karbohidrat, protein, dan lemak yang juga bisa menjadi energi cadangan. Kopi, kata Jusri, harus dihindari waktu sahur, karena kopi dapat menstimulus organ tubuh seperti detak jantung.

    Organ tubuh tersebut akan bekerja keras dan memberikan efek keringat yang menyebabkan dehidrasi disaat puasa. Efeknya akan menyedot segala unsur-unsur energi dan stamina melemah. “Maka suplai air juga harus diperhatikan, perbanyak minum air putih saat sahur dan setelah berbuka puasa, bisa juga konsumsi sari buah yang memberikan efek mengurangi dehidrasi tubuh,” tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Macam Batal Puasa

    Ada beberapa macam bentuk batalnya puasa di bulan Ramadan sekaligus konsekuensi yang harus dijalankan pelakunya.