Istirahat di Dalam Mobil saat Mudik Dilarang, Kecuali...

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita tidur di mobil. nerdsleep.com

    Ilustrasi wanita tidur di mobil. nerdsleep.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Banyak kasus berujung kematian saat beristirahat dalam mobil dengan keadaan mesin mobil menyala dan kaca tertutup rapat. Maka pemudik yang hendak beristirahat dalam mobil perlu memperhatikan hal tersebut. 

    Baca: 3 Hal yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Mudik Ala Daihatsu

    Seperti yang dijelaskan Head Product Improvement/ EDER Dept Technical Service Division PT Astra Daihatsu Motor, Bambang Supriyadi, banyak kejadian saat berhenti lalu tidur di dalam mobil terus 'lewat'. Mesin mobil memiliki kandungan gas buang yang cukup banyak, ada HC (Hidrokarbon), CO (Karbon Monoksida), CO2 (Karbon Dioksida), dan lain-lain.

    “Nah terutama gas CO itu berbahaya dan beracun, dia ngikat oksigen. Kalau mobil berhenti dalam keadaan mesin menyala, maka gas ini bisa masuk ke dalam kabin,” ujarnya di Jakarta, Kamis, 9 Mei 2019.

    Ia melanjutkan, kenapa bisa masuk, karena antar bodi ada sambungan-sambungan. Antar sambungan ini tidak anti bocor, jadi di antara celah bodi ini gas CO bisa masuk, sehingga gas itu akan naik dan masuk ke dalam kabin.

    Baca: Daytrans Memprediksi Tol Trans Jawa Ramai saat Mudik, Tarifnya..

    Sedangkan saat mobil berhenti, orang yang sedang beristirahat cenderung menutup jendela rapat-rapat dan menyalakan AC supaya dingin. “Jadi itu kuncinya, sepanjang jendela tidak ditutup full, gas buang berbahaya yang masuk bisa keluar. Tapi kalau jendela ditutup full, gas itu bisa terhirup orang yang di dalam,” tuturnya.

    Ia menambahkan, berbeda pada saat keadaan mobil jalan, gas tidak akan masuk ke dalam kabin karena angin dari depan ke belakang, bukan berputar di sekeliling mobil seperti pada saat berhenti yang memungkinkan gas masuk dalam kabin.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu European Super League?

    Pada 19 April 2021, sebanyak 12 mega klub sepakbola Eropa mengumumkan bahwa mereka akan membuat turnamen baru yang bernama European Super League.