Hotrodiningrat Gratiskan Sewa Mobil Klasik untuk Nikah Massal

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Chevrolet Suburban 1968 milik komunitas Hotrodiningrat jadi mobil pernikahan massal yang digelar Forum Taaruf Indonesia di Yogyakarta, Ahad, 12 Mei 2019. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Chevrolet Suburban 1968 milik komunitas Hotrodiningrat jadi mobil pernikahan massal yang digelar Forum Taaruf Indonesia di Yogyakarta, Ahad, 12 Mei 2019. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Deretan mobil beraliran kustom Hot Rod menjadi mobil iringan pernikahan massal yang melibatkan 5 pasang pengantin asal DIY dan Jawa Tengah di Yogya Minggu sore 12 Mei 2019.

    Deretan unit mobil hot road pembawa pengantin itu antara lain Chevrolet Deluxe keluaran tahun 1951, Chevrolet Impala keluaran 1964, Chevrolet C10 Pikup rilisan tahun 1971, dan Chevrolet Suburban 1968. Hot Rod milik komunitas Hotrodiningrat Yogya. Mobil mobil langka itu merupakan koleksi kesayangan anggota Hotrodiningrat Ari Prabowo alias Popo.

    Baca: Deretan Chevrolet Hot Rod Klasik Kawal Nikah Massal di Yogya

    Para pengantin nikah massal itu dibawa dengan mobil lawa Amerika-nan itu menuju showroom workshop Java Videotron yang juga milik Popo di Desa Panggungharjo Sewon Bantul untuk ijab kabul.

    Lantas berapa biaya yang musti dikeluarkan penyelenggara nikah massal untuk menyewa mobil mobil langka termasuk sewa showroom ijab kabul itu? "Mobil-mobil ini gratis semuanya, tidak disewakan, ini hanya bentuk sosial kami menjadi tuan rumah acara nikah massal ini," ujar Popo kepada Tempo.

    Chevrolet Deluxe tahun 1951 milik komunitas Hotrodiningrat jadi mobil pernikahan massal yang digelar Forum Taaruf Indonesia di Yogya Minggu (12/5). Tempo/Pribadi Wicaksono

    Popo yang juga menjadi saksi nikah massal sekaligus supir yang membawa pasangan pengantin itu mengatakan, sebenarnya seluruh anggota komunitas Hotrodiningrat sudah bersedia menurunkan mobilnya untuk membawa peserta nikah massal.

    Namun target penyelenggara yang awalnya melibatkan 25 pasang pengantin ternyata hanya lima pasang saja yang jadi ikut.

    Baca: Chevrolet Jambrong Ini Ditawar Setengah Miliar Tapi Tak Dilepas

    Popo mengatakan mobil-mobil yang terlibat dalam acara nikah massal memang rata rata hanya dibawa saat ada event khusus Hot Rod. Misalnya event yang digelar Hotrodiningrat 2018 lalu.

    Sejumlah mobil koleksi itu memang dipertahankan dan belum ada niatan menjualnya meski berkali kali ditawar dengan harga fantastis.

    Seperti Chevrolet Deluxe keluaran tahun 1951 yang tawaran terakhir sekitar Rp 350 juta saat ajang Hotrodiningrat 2018 lalu.

    Popo mengatakan pihaknya cukup senang mobil koleksi komunitas Hotrodiningrat bisa terlibat memeriahkan acara kegiatan nikah massal tersebut. Ini seperti ajang sosial dari komunitas pada masyarakat dalam bentuk lain.

    Penggagas acara nikah massal sekaligus Ketua Forum Taaruf Indonesia atau Fortais Yogya Ryan Budi Nuryanto mengatakan ajang itu melibatkan pasangan tak mampu yang selama ini kesulitan untuk melaksanakan pernikahan.

    Baca: Cerita Bos Bengkel Kustom Holden: Untung Sedikit Bisa Masuk Bui

    "Padahal pernikahan adalah misaqan gholidan, suatu janji suci dan sakral kepada Allah, yang memberi ketenangan hidup dan jiwa," ujarnya.

    Sebanyak lima pasangan nikah massal itu mendapatkan full fasilitas gratis mulai biaya nikah, mahar, cincin kawin, ijab unik, pesta rakyat, bingkisan manten, kosmetik, busana tata rias, dokumentasi serta bulan madu di hotel berbintang Yogya.

    Salah satu pasangan nikah massal yakni Wiji Prihatin, janda, 37 asal Bantul dan Ikhwan Nurdin, duda, 35 asal Solo mengaku senang sekali dengan konsep pernikahan yang melibatkan mobil mobil klasik dan bernuansa retro karena dilakukan di garasi itu.

    "Ini mimpi lama saya, nikah dengan iringan mobil mobil klasik dan suasana yang tidak kaku tapi tetap sakral," ujar Ikhwan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.