Tip Berkendara Motor Gede saat Berpuasa

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pengendara Harley Davidson, menerima arahan instruktur saat kegiatan Safety Riding Course bagi pengendara moge Harley Davidson di Lapangan Kodam V/Brawijaya, Surabaya, Minggu (3/5). ANTARA/Eric Ireng

    Seorang pengendara Harley Davidson, menerima arahan instruktur saat kegiatan Safety Riding Course bagi pengendara moge Harley Davidson di Lapangan Kodam V/Brawijaya, Surabaya, Minggu (3/5). ANTARA/Eric Ireng

    TEMPO.CO, Jakarta - Berkendara saat dalam kondisi berpuasa memerlukan energi yang lebih agar tetap fokus di jalanan. Apalagi untuk pengendara yang menggunakan motor berukuran besar seperti motor gede (Moge) atau sejenis motorsport pasti lebih banyak energi yang dikeluarkan.

    Lantas bagaimana caranya agar konsenterasi tetap terjaga meski harus menggunakan moge saat berpuasa?

    Baca Juga: Cara Jaga Emosi Saat Berkendara di Bulan Ramadan ala Auto2000

    Dijelaskan Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, untuk para pemotor yang sehari-hari menggunakan moge saat berpuasa, usahakan perpanjang durasi istirahatnya.

    "Waktu berkendaranya sama dengan motor kecil, tapi capeknya dua kali lebih besar. Jadi durasi istirahatnya yang diperpanjang sedikit," ujarnya saat dihubungi Tempo beberapa waktu lalu.

    Namun pada prinsipnya kata Sony, mengendarai motor berukuran besar ataupun kecil sama saja. Hanya handling motor ukuran besar lebih berat dibanding yang kecil.

    "Terutama motor-motor yang memiliki getaran besar seperti motor HD (Harley-Davidson)," katanya.

    Baca Juga: Simak 5 Cara Berkendara di Bulan Ramadan ala Astra Honda Motor

    Selain itu ia juga menyarankan jangan pernah memaksakan untuk melanjutkan perjalanan kalau merasa mengantuk di jalan karena puasa. Cari tempat yang aman dan istirahat sejenak.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.