2 Keunggulan Nitrogen Dibandingkan Angin Biasa untuk Mengisi Ban

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ban mobil BMW M 135i terbaru, dalam acara peluncurannya, di Jakarta, Rabu (22/5). TEMPO/Imam Sukamto

    Ban mobil BMW M 135i terbaru, dalam acara peluncurannya, di Jakarta, Rabu (22/5). TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Mengisi ban dengan nitrogen lebih mahal dibandingkan angin biasa. Sejumlah bengkel pengisi nitrogen menarik ongkos pengisian hingga belasan ribu rupiah bandingkan mengisi angin biasa hanya Rp 2.000. Lalu, apakah angin nitrogen memiliki keunggulan dibandingkan angin biasa?

    Baca: Alasan Tekanan Angin Ban Wajib Diperiksa Secara Berkala

    Kedua elemen udara memiliki karakter berbeda. Seperti dikutip dari laman Suzuki Indonesia, menyebutkan nitrogen lebih bagus dibandingkan angin biasa karena tidak mudah keluar dari karet ban. Adapun gas oksigen yang mudah keluar dari ban walaupun hanya sedikit demi sedikit.

    Udara bebas yang ada di alam dan bebas dihirup sebenarnya ada unsur nitrogennya, namun ada juga oksigen. Oksigen diketahui punya pori-pori lebih kecil ketimbang pori-pori karet ban. Sehingga jika dibiarkan saja selama seminggu misalnya, oksigen akan keluar.

    Nitrogen yang saat ini bisa mudah didapat dari bengkel atau di SPBU umumnya punya kadar oksigen juga, walaupun tidak banyak. Meski mengandung oksigen, gas nitrogen lebih baik karena tidak mudah keluar dari ban. Jadi tingkat kebocoran menjadi lebih rendah dan ban akan lebih aman digunakan.

    Baca juga: Cara Mudah Merawat Ban Tetap Awet

    Alasan selanjutnya, dengan menggunakan gas nitrogen pada ban, temperatur ban bisa tetap terjaga. Contohnya, kendaraan yang dipacu di kecepatan tinggi, dengan ban yang berisi nitrogen, temperatur ban tidak naik terlalu tinggi. Ban akan tetap dingin dan dengan suhu yang dingin, ban akan lebih awet.

    Selama ini, musuh utama ban itu suhu yang panas. Saat suhu ban panas menyebabkan karet akan menjadi empuk, menjadi lebih cepat tergesek lalu lapisan di dalam bisa terpisah, sehingga akan menjadi lebih cepat rusak.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.