Mazda Optimistis Tren SUV Semakin Meningkat, Ini Alasannya

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • All New Mazda3. TEMPO/Wira Utama

    All New Mazda3. TEMPO/Wira Utama

    TEMPO.CO, Jakarta - Product Planning PT Eurokars Motor Indonesia (EMI), Distributor Mazda di Indonesia, Kenny Wala memprediksi mobil segmen SUV akan terus moncer. Dia melihat ada tren pergeseran pengguna mobil MPV ke SUV. "Kalau kami lihat, memang orang-orang mulai beralih dari MPV ke SUV," ujar Kenny kepada Tempo di kawasan Jakarta Selatan, Selasa 9 Juli 2019.

    Kenny berasumsi bahwa mungkin saja hal itu dipengaruhi oleh adanya kejenuhan pengguna mobil Seven Seater yang menyadari kalau pada dasarnya kendaraan tujuh penumpang tidak terlalu dibutuhkan.

    Baca juga: Mazda Tebar Teaser Crossover Baru untuk Geneva Motor Show 2019

    "Jadi mungkin saja semakin lama, semakin ke sini, ternyata mereka cuma butuh lima seater aja. Itu salah satu yang menurut saya SUV masih tetap naik," ujar dia.

    Selain itu, Kenny juga menyebut bahwa pangsa pasar SUV memang lebih besar ketimbang jenis mobil lain. Terlebih segmen Sedan yang terkenal dari Mazda. "SUV makin lama makin naik dibandingkan Sedan atau Hatchback," kata Kenny.

    Baca juga: New Mazda CX3 Tampil Modis, Putaran Bawah Kurang Galak

    Melihat itu semua, EMI selaku APM Mazda di Indonesia tak mau ketinggalan bersaing dengan kompetitor di pasar SUV. EMI mengeluarkan line up SUV Mazda seperti CX-3, CX-5, CX-8. Termasuk CX-9 yang lebih masuk ke segmen SUV Premium dengan harga di atas Rp830 jutaan.

    "Makanya Mazda juga mengeluarkan line up SUV. Seperti CX-3, CX-5, CX-8," ucap dia.

    Untuk diketahui mobil terlaris dari Mazda di Indonesia itu adalah CX-5. Mobil segmen SUV menengah ini mendominasi penjualan perusahaan asal Hiroshima ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.