Cara Carro Mendongkrak Pendapatan Dealer Mobil Bekas

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana penjualan mobil bekas di WTC Mangga Dua, Jakarta, Senin 20 Mei 2019. Manajer Pemasaran Senior WTC Mangga Dua Herjanto Kosasih menyatakan penjualan mobil bekas menjelang mudik Lebaran 1440 H meningkat dibandingkan hari biasa pada bulan sebelumnya. Tempo/Tony Hartawan

    Suasana penjualan mobil bekas di WTC Mangga Dua, Jakarta, Senin 20 Mei 2019. Manajer Pemasaran Senior WTC Mangga Dua Herjanto Kosasih menyatakan penjualan mobil bekas menjelang mudik Lebaran 1440 H meningkat dibandingkan hari biasa pada bulan sebelumnya. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Carro, marketplace otomotif terus mendukung pertumbuhan dealer mobil bekas di Indonesia melalui adopsi teknologi digital. Caranya, melibatkan para dealer ke dalam platform online untuk mendorong aktivitas penjualan di dunia maya. Didirikan di Singapura pada 2015, perusahaan rintisan tersebut kini telah berekspansi ke Indonesia dan Thailand dalam usahanya menciptakan marketplace terbesar di kawasan untuk industri otomotif dengan total transaksi mencapai US$ 500 juta pada 2018.

    Di Indonesia, Carro telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 1.000 dealer yang aktif melakukan transaksi melalui platform mereka dan saat ini telah berhasil menjangkau lebih dari 20 kota di luar Jakarta, seperti Solo, Yogyakarta, Tegal, Purwokerto, Semarang, Tasikmalaya, Malang, Surabaya, dan Pekanbaru. Di tahun ini, Carro turut meluncurkan sistem pendanaan inventaris bagi para dealer mobil bekas yang disebut sebagai Terms of Payment (TOP).

    Sistem yang saat ini diperuntukkan bagi dealer di kawasan Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek) tersebut berfokus pada peningkatan penjualan mobil bekas di Indonesia dengan cara memberikan suplai inventaris kendaraan kepada dealer yang nantinya akan mendistribusikan kendaraan tersebut kepada konsumen. Dealer yang bergabung dalam sistem ini mendapatkan kemudahan untuk menyelesaikan pembayaran kepada Carro dalam jangka waktu 60 hari setelah kendaraan resmi terjual. Sistem pendanaan ini merupakan keberlanjutan dari Carro Dealer Partnership (CDP) program yang telah dibuat sebelumnya.

    "Dengan bergabung di platform milik Carro, kami telah berhasil meningkatkan penjualan kami sebesar dua kali lipat dalam jangka waktu kurang dari satu tahun" tutur Ng Hadi, pemilik dealer Aneka Mobil.

    Hadi mengungkapkan Aneka Mobil sebelumnya beroperasi secara tradisional sejak didirikan pada 2015, dengan rata-rata inventaris sebanyak 6 hingga 8 kendaraan per bulan. Sejak bermitra dengan Carro, ia berhasil meningkatkan jumlah inventaris sebanyak 30 persen.

    Carro saat ini tengah berfokus untuk meningkatkan kerja sama dengan dealer mobil tradisional di Indonesia dengan cara menghubungkan mereka dengan teknologi yang dapat mendorong pengalaman berbelanja bagi konsumen. Hal ini dapat membantu dealer dalam memanfaatkan pertumbuhan layanan e-commerce yang cepat di Indonesia, dimana dealer dapat menjangkau pembeli dalam jumlah yang lebih besar dan meningkatkan pertumbuhan pendapatan.

    “Indonesia merupakan salah satu pasar e-commerce terbesar di kawasan. Melalui kerja sama dengan dealer mobil bekas di Indonesia dalam hal penggunaan teknologi baru, kami dapat membantu mereka dalam memanfaatkan saluran penjualan online untuk menemukan calon pembeli dan mendorong penjualan mereka,” ucap Aaron Tan, CEO and Founder of Carro.

    “Dengan membawa mereka ke dalam platform kami, kami ingin berperan secara aktif dalam mendorong penjualan dealer mobil Indonesia, khususnya di daerah-daerah di luar perkotaan,” tambah Tan. Layanan yang diberikan mencakup inspeksi kendaraan untuk memastikan kelayakan kendaraan serta mendorong komunikasi yang baik antara pembeli dengan dealer kendaraan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.