AHM Mendorong Siswa SMA Menjadi Wirausaha, Omsetnya Rp 10 Jutaan

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siswa SMK dan SMA pemenang dalam ajang AHM  Best Student 2019 di Gedung Astra International, Kamis 25 Juli 2019.

    Siswa SMK dan SMA pemenang dalam ajang AHM Best Student 2019 di Gedung Astra International, Kamis 25 Juli 2019.

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Astra Honda Motor (AHM) memiliki komitmen dalam pengembangan wirausaha dalam salah satu program Corporate Social Responsibility atau CSR. Salah satu programnya dengan AHM Best Student 2019.

    AHM menyeleksi dan membina 25 siswa setingkat SMA sebagai entrepreneur kreatif muda, cerdas, dan menginspirasi. Setelah melewati seleksi ketat di masing-masing daerah, 25 siswa yang terseleksi dari 411 peserta yang tersebar di 222 sekolah di Indonesia ini menjalani seleksi final yang diselenggarakan di Jakarta, Kamis 25 Juli 2019.

    Didukung jaringan main dealer sepeda motor Honda, para pebisnis millenial ini beradu kreativitas bisnis di tengah komitmen mereka menimba berbagai ilmu sekolah masing-masing.

    Memasuki tahun pelaksanaan ke-17, AHMBS 2019 mengusung tema “Creativepreneur Gen Millenial”. Identitas ini menegaskan AHMBS sebagai kegiatan yang sangat kompetitif dengan peserta terbaik, yakni wirausaha kreatif yang lahir dari generasi millenial dan memiliki karakter khas, yaitu kreatif, percaya diri, serta akrab dengan teknologi khususnya media sosial.

    Hasil karya yang lolos menuju seleksi nasional menjadi bukti kreativitas yang semakin meningkat di kalangan millenial. Hasil karya peserta AHMBS nasional beragam meliputi berbagai bidang, baik kuliner, pengolahan limbah, agrobisnis, kecantikan, kesehatan, fashion, hingga Jasa.

    General Manager Corporate Communication AHM Ahmad Muhibbuddin mengatakan kreativitas dari generasi millenial merupakan aset yang dapat berkontribusi positif untuk masyarakat dan kemajuan bangsa Indonesia. Melalui kompetisi AHMBS, AHM terus menjaga komitmennya dalam mendukung kreativitas siswa SMA yang menjalankan bisnis dengan manfaat luas untuk masyarakat sekitarnya.

    ”Kami memberikan wadah berkarya bagi para entrepreneur millennial kreatif sebagai bentuk apresiasi atas kegigihan mereka dalam membangun usaha. Harapannya, program AHMBS dapat melahirkan jutaan pengusaha muda kreatif dan mandiri yang akan memajukan perekonomian masyarakat di berbagai bidang,” ujar Muhibbuddin.

    Dalam proses penjurian final di Jakarta, karya 25 siswa terbaik diverifikasi tim AHM bersama PPM School of Management. Semua siswa wajib melakukan presentasi di hadapan dewan juri. Penilaian juri meliputi beragam aspek, yaitu kegigihan dalam mengembangkan usaha bisnsis, kreativitas dan inovasi bisnis, kinerja bisnis, pemanfaatan media sosial sebagai sarana pemasaran, prospek bisnis di masa datang dan kemampuan memaparkan bisnisnya di hadapan dewan juri.

    Setelah melalui tahapan seleksi baik paper dan presentasi, terpilih 6 orang siswa peserta AHMBS. Yaitu, Rizal Alamsyah, SMKN 1 Batealit , Asmo Jateng, menggarap olahan Terasi berteknologi Osmosis, Elsi Maireski, SMAN 1 Sitiung, Hayati, Corn Threser, dan Muhammad Akmal Ganesha, SMKS 16 Farmasi Bhaktinusa, Asmo Bengkulu, Kalfresh Minyak Angin Aromateraphy. Selanjutnya, M. Irfan Arya Afandi, SMA CT Foundation, ITC, Artocarpus Yoghurt & Cookies, Gilang Wibisono, SMK Muhammadiyah Kutowinangung, Asmo Jogja, Wayang Karet Talang Air dan Doni Wahyudi, SMK Kartini, CDN Kepri, Xiarow untuk Gen Millenials.

    Rizal mengungkapkan berawal prihatin dengan petani udang rebon yang banyak hasil kerjanya basi. Ia pun kemudian melakukan uji coba pembuatan terasi dengan osmosis selama dua tahun dengan percobaan 33 kali. Dengan modal hanya Rp 100 ribu kini omsetnya bisa tembus lebih dari Rp 10 juta. "Kami bisa menghasilkan terasi 50 kilogram sehari," ujarnya.

    Tak kalah dari Rizal, Akmal mampu membuat minyak aroma dari Jeruk Alamansi dalam waktu 3 bulan. Produknya kini telah menyebar di seluruh wilayah Bengkulu lewat jaringan toko-toko dan apotek. Ia mampu menghasilkan omset diatas Rp 2 juta. "Sekarang saya sedang mengajukan izin di BPOM untuk masuk supermarket," ujarnya.

    Adapun Elsi Maireski mampu Corn Threser yang bermula dari proses pemrintilan jagung bisa lebih cepat sekitar satu menit. Ia pun mengarap alat ini dari barang bekas seperti gear, botol, dan rantai. "Saat ini saya sudah memasarkan 27 alat dengan harga Rp 200 ribu per buah," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.