Penjualan Mobil Murah Masih Tinggi, Toyota Tak Tinggalkan LCGC

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Toyota Calya secara resmi diluncurkan di Astra Daihatsu Assembly Plant, Karawang Timur, Jawa Barat, pada Selasa 2 Agustus 2016. Produk Low Cost Green Car (LCGC) dengan kursi tiga baris ini merupaka produk andalan baru Toyota di kelas bawah. Penjualannya mampu mencatatkan angka cukup baik yaitu 59.244 unit. Dok. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Toyota Calya secara resmi diluncurkan di Astra Daihatsu Assembly Plant, Karawang Timur, Jawa Barat, pada Selasa 2 Agustus 2016. Produk Low Cost Green Car (LCGC) dengan kursi tiga baris ini merupaka produk andalan baru Toyota di kelas bawah. Penjualannya mampu mencatatkan angka cukup baik yaitu 59.244 unit. Dok. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, JakartaToyota menyebutkan tidak akan meninggalkan pasar Low Cost Green Car (LCGC) meski penjualannya terus mengalami penurunan. Pada 2018, penjualan LCGC masih memberikan kontribusi hingga 20 persen dari total penjualan 1,1 juta unit yang dicatat Gaikindo.

    Executive General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM) Fransiscus Soerjopranoto mengatakan bahwa akan tidak bijaksana bila Toyota meninggalkan pasar LCGC kendati trennya terus menurun. "Walaupun terus menurun, jangan lupa, tahun lalu LCGC menyumbang sekitar 20 persen dari total penjualan tahun lalu. Akan tidak bijaksana kalau pasar itu ditinggalkan," ujarnya kepada Bisnis, Sabtu 27 Juli 2019.

    Dia memastikan kendaraan yang memiliki kandungan lokal tinggi ini tetap menjadi fokus Toyota bersama dengan model-model lainnya. Pria yang akrab disapa Soerjo ini juga menanggapi fenomena baru yakni sejumlah produk baru harganya 'mampir' di kelas LCGC tetapi tidak masuk dalam program pemerintah tersebut.

    Diantaranya, Renault Triber yang diluncurkan di GIIAS 2019. Mobil tujuh penumpang yang memiliki empat varian ini diperkirakan dibanderol dengan harga antara Rp135 juta hingga Rp175 juta.

    Renault Triber resmi diperkenalkan di GIIAS 2019. Sudah bisa dipesan dengan tanda jadi Rp 3 juta. 18 Juli 2019. TEMPO/Khairul Imam Ghozali

    Soerjo mengatakan bahwa sebagai merek mobil yang kembali mulai berkompetisi melawan para pemain lama memang harus menggunakan strategi khusus untuk bisa menarik perhatian masyarakat.

    "Harus ada gimmick yang menarik, penambahan fitur dan yang lainnya bisa dilakukan. Saya pun juga akan melakukan hal yang sama bila di posisi yang sama. Namun, yang menjadi pertanyaan kenapa tidak masuk ke LCGC?" katanya.

    Chief Operating Officer (COO) PT Maxindo Renault Indonesia (MRI), Davy J Tuilan mengatakan bahwa Renault Triber bisa dibilang masuk ke dua kelas yakni Mobil MPV dan LCGC.

    Menurutnya, dari sisi daya tampung penumpang, Triber masuk di kelas MPV (multi purposed vehicle) yakni mampu memuat 5-7 penumpang, tetapi dari sisi mesin berada di kelas LCGC yakni 1.000 cc.

    "Renault Triber bisa diterima di segmen besar, mulai dari LCGC lima seater, LCGC tujuh seater, LMPV, dan juga hatchback," ujarnya saat peluncuran Renault Triber di Jakarta beberapa waktu lalu.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.