BAIC Group Jadi Pemegang Saham Terbesar Ke-3 Daimler AG

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • SUV BJ80 buatan BAIC dengan model Mercedes-Benz G-Class. Sumber: carscoops.com

    SUV BJ80 buatan BAIC dengan model Mercedes-Benz G-Class. Sumber: carscoops.com

    TEMPO.CO, Beijing - Raksasa otomotif Cina, BAIC Group, diwartakan China Daily telah mengakuisisi 5 persen saham di Daimler AG.

    Tidak ada keterangan jumlah uang yang terlibat dalam akuisisi yang diumumkan kepada publik minggu lalu, namun diperkirakan sekitar 2,5 miliar euro berdasarkan harga saham Daimler.

    Kesepakatan itu telah menjadikan BAIC sebagai pemegang saham terbesar ketiga Daimler. Dalam sebuah pernyataan pekan lalu, Ketua BAIC, Xu Heyi mengatakan: "Sudah merupakan keinginan jangka panjang untuk memperdalam kemitraan dengan Daimler melalui investasi. Kami telah bergandengan tangan selama lebih dari satu dekade dan kemitraan telah menghasilkan hasil yang luar biasa."

    Keduanya menciptakan perusahaan patungan pertama mereka - Beijing Mercedes-Benz Automotive Co - pada tahun 2005, yang telah memproduksi model-model Mercedes-Benz secara lokal di negara tersebut.

    Mercedes-Benz menjual lebih dari 650 ribu mobil di Cina tahun lalu, menjadikannya salah satu merek premium paling populer di Cina, dengan 70 persen dari total yang diproduksi di perusahaan patungan.

    Dalam laporan keuangannya, BAIC mengatakan keuntungannya pada tahun 2018 tumbuh 4,2 persen (Year on Year) menjadi 37 miliar yuan (setara Rp 75 triliun), terutama merupakan hasil dari peningkatan penjualan dari perusahaan patungan dengan Mercedes-Benz. 

    Perusahaan patungannya dengan Hyundai Korea Selatan tumbuh kurang dari 1 persen sementara perusahaan BAIC sendiri merosot.

    Memperkuat kemitraannya dengan Daimler akan membantu BAIC mengatasi kemerosotan di Cina mengingat posisi kuat Mercedes di pasar premium yang masih tumbuh, menurut Yale Zhang, direktur pelaksana konsultan Foresight Otomotif yang bermarkas di Shanghai.

    “Ini adalah sumber pendapatan terbesar untuk BAIC," kata Zhang.

    Hubungan yang lebih dekat dengan Daimler dianggap menjadi lebih penting karena pasar kendaraan penumpang Cina, yang terbesar di dunia, jatuh sejak 2018. Ini adalah penurunan penjualan mobil pertama kalinya di Cina sejak 1990. 

    Tetapi merek-merek asing yang mewah tidak terlalu terpengaruh oleh penurunan daripada marque yang lebih murah, membuat produsen Cina semakin bergantung pada usaha patungan asing untuk mendapatkan keuntungan.

    Pada paruh pertama tahun ini, Mercedes-Benz mengirim 350 ribu kendaraan ke Cina, naik 1 persen dari periode yang sama tahun lalu. 

    Pada periode yang sama, pasar mobil penumpang Tiongkok turun 14 persen (YoY).

    Langkah ini juga diharapkan menguntungkan Daimler, yang sekarang memiliki bos baru dan ingin mendapatkan kesuksesan lebih lanjut di pasar terbesar dunia.

    Dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa, 30 Juli 2019, Ola Kallenius, yang menggantikan Dieter Zetsche sebagai ketua Daimler pada bulan Mei, mengatakan perusahaan "sangat senang" bahwa mitra lama BAIC sekarang menjadi investor jangka panjang di Daimler.

    Daimler bahkan meyakinkan BAIC bahwa aliansi industri baru yang melibatkan Mercedes dan mitra Cina hanya akan terjadi setelah konsensus dengan BAIC. 

    "Langkah ini memperkuat kemitraan sukses kami dan merupakan sinyal kepercayaan terhadap strategi dan potensi masa depan perusahaan kami," kata Kallenius, yang juga CEO Mercedes-Benz.

    "Pasar Cina adalah dan tetap menjadi pilar penting kesuksesan kami, tidak hanya untuk penjualan, tetapi juga untuk pengembangan dan produksi produk kami," katanya.

    Para analis mengatakan Cina bahkan lebih penting bagi Daimler karena sedang transisi di bawah bos baru ke arah strateginya termasuk elektrifikasi dan berbagi kendaraan.

    Perusahaan itu membutuhkan pendapatan dari Cina, di mana penjualan mencapai sekitar seperempat dari total globalnya, untuk mendanai transisinya dan Cina juga merupakan pasar terbesar untuk kendaraan listrik.

    Statistik dari Asosiasi Produsen Otomotif Cina menunjukkan bahwa lebih dari 1,2 juta mobil listrik dan plug-in hybrid terjual tahun lalu. Angka itu diharapkan naik menjadi 1,6 juta unit tahun ini. 

    Daimler dijadwalkan memproduksi kendaraan EQC listriknya di Cina mulai tahun ini dan model lain, EQB, akan tiba sekitar tahun 2021.

    Daimler saat ini memegang 3 persen saham di perusahaan pengembangan kendaraan energi baru BAIC, BJEV. BJEV saat ini dikenal sebagai produsen mobil listrik terbesar di negara Tirai Bambu.

    Seorang eksekutif senior di BJEV mengatakan kepada China Daily dalam wawancara sebelumnya bahwa pihaknya mendapat manfaat dari uji coba dan validasi Daimler untuk mengembangkan generasi baru kendaraan listrik. 

    Namun Daimler tidak memasukkan semua investasinya dalam satu tempat. 

    Pada bulan Maret, Daimler setuju untuk membangun smart city car bertenaga listrik bersama Geely, yang mengakuisisi 9,69 persen saham seharga US$ 9 miliar pada awal 2018.

    Kesepakatan itu untuk menjalankan usaha patungan dengan BYD, raksasa kendaraan energi baru di Cina, untuk mengembangkan dan memproduksi kendaraan listrik bermerek Denza.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mereka Boleh Tetap Bekerja Saat DKI Jakarta Berstatus PSBB

    PSBB di Jakarta dilaksanakan selama empatbelas hari dan dapat diperpanjang. Meski demikian, ada juga beberapa bidang yang mendapat pengecualian.